Teks Khotbah Jumat: Peringatan Keras Islam Bagi Sikap Mujaharah (terang-terangan Bermaksiat)

May 15, 2026 11:00 AM - 9 jam yang lalu 386

Khotbah pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَقَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا

أَمَّا بَعْدُ

عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ

Kaum Muslimin, jemaah sidang Jumat rahimakumullah,

Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan sebuah peringatan yang sangat keras kepada umatnya. Peringatan yang semestinya membikin kita berakhir sejenak dan merenungkan kondisi diri kita. Beliau bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Semua umatku bakal mendapatkan ampunan, kecuali orang-orang yang terang-terangan dalam kemaksiatan. Sesungguhnya termasuk mujaharah adalah seseorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, kemudian Allah menutupinya, namun di pagi hari dia berkata, ‘Wahai fulan, tadi malam saya melakukan ini dan itu.’ Padahal Allah telah menutupinya di malam hari, namun dia malah membuka apa yang Allah tutupi.” (HR. Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 2990)

Perhatikan kalimat Rasulullah ﷺ, “semua umatku bakal mendapat ampunan,” ini adalah berita ceria yang luar biasa. Setiap orang dari umat Muhammad ﷺ mempunyai kesempatan mendapatkan pembebasan Allah. Namun ada pengecualian yang mengerikan, “kecuali para mujahir.” Mereka yang memamerkan dosanya secara terang-terangan telah menutup sendiri pintu pembebasan itu.

Jemaah yang dirahmati Allah, lampau apakah sebenarnya mujaharah itu?

Mujaharah bukan hanya melakukan dosa. Mujaharah adalah ketika seseorang melakukan dosa, dia malah memamerkan, menceritakan, mengumumkan, apalagi membujuk orang lain untuk turut melakukannya. Dia tidak mempunyai rasa malu dan takut. Seolah-olah dosa itu adalah prestasi yang patut dibanggakan.

Lantas, apa saja ancaman mujaharah yang perlu kita waspadai?

Pertama, mujaharah adalah corak penghinaan kepada Allah

Orang yang mujahir seolah berbicara dengan perbuatannya, “Aku tidak takut kepada Allah, saya tidak peduli dengan larangan-Nya.” Padahal Allah berfirman,

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.” (QS. Az-Zumar: 67)

Seandainya dia betul-betul mengerti keagungan dan kebesaran Allah, tentu dia tidak bakal berani berhadapan dengan-Nya dalam melakukan kemaksiatan secara terang-terangan.

Kedua, mujaharah menyebarkan kerusakan di masyarakat

Orang yang mujahir tidak hanya berdosa untuk dirinya sendiri, tetapi dia turut membujuk orang lain untuk ikut terjerumus. Setiap orang yang terpengaruh dan meniru perbuatannya, maka dia pun ikut menanggung dosanya. Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang suka menyebarkan perbuatan biadab di kalangan orang-orang beriman, mereka bakal mendapatkan balasan yang perih di bumi dan akhirat.” (QS. An-Nur: 19)

Bahkan Rasulullah ﷺ memperingatkan dampaknya bagi seluruh masyarakat,

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا

“Tidaklah merajalela perbuatan biadab pada suatu kaum hingga mereka mengumumkannya, selain bakal menyebar di antara mereka pandemi penyakit dan penyakit-penyakit yang tidak pernah ada pada generasi sebelumnya.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, disahihkan oleh Al-Albani)

Mujaharah bukan hanya persoalan pribadi. Ia adalah persoalan sosial yang menghancurkan masyarakat.

Ketiga, mujaharah menunjukkan hilangnya rasa malu

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya di antara yang dikenal manusia dari kalimat kenabian yang pertama adalah: Jika Anda tidak malu, lakukanlah apa yang Anda mau.” (HR. Bukhari no. 3484)

Orang yang mujahir telah kehilangan rasa malunya. Padahal, rasa malu adalah bagian dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda,

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Rasa malu adalah salah satu bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35)

Ketika rasa malu hilang, maka ketaatan pun telah rapuh. Dan inilah yang terjadi pada para mujahir.

Keempat, mujaharah melipatgandakan dosa pelakunya

Orang yang berterang-terangan dalam kemaksiatan dosanya jauh lebih besar dibandingkan dengan orang yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Karena dia tidak hanya menanggung dosa perbuatannya sendiri, tetapi juga menanggung dosa setiap orang yang ikut terpengaruh olehnya. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang membikin kebiasaan jelek dalam Islam, maka dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017)

Bayangkan seorang mujahir yang memamerkan dosanya di media sosial kepada ribuan apalagi jutaan orang. Setiap orang yang ikut terdorong melakukan perihal yang sama lantaran terpengaruh olehnya, dosanya ikut ditanggung oleh sang mujahir. Inilah beban yang sesungguhnya mengerikan.

Saudara-saudaraku seiman, kita hidup di era yang menjadikan mujaharah begitu mudah dilakukan. Media sosial membikin seseorang bisa memamerkan dosanya kepada jutaan orang hanya dalam hitungan detik. Yang dulu hanya bisa dilihat puluhan orang, sekarang bisa disaksikan jutaan. Ini menjadikan tanggung jawab dosa mujaharah di era sekarang jauh lebih besar dan lebih berat. Allah berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan janganlah kalian saling membantu dalam melakukan dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Mereka yang memberikan platform, menyukai, membagikan konten maksiat, turut menjadi bagian dari dosa itu.

Jemaah yang mulia, lampau apa yang kudu kita lakukan?

Pertama, jika kita melakukan kesalahan, tutuplah. Jangan ceritakan kepada siapapun. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berbicara kepada seseorang yang datang mengakui dosanya kepada Nabi ﷺ,

لَقَدْ سَتَرَكَ اللَّهُ، لَوْ سَتَرْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Sungguh Allah telah menutupimu, seandainya engkau menutupi dirimu sendiri.” (HR. Muslim no. 1692)

Kedua, jauhi lingkungan dan tontonan yang mendorong dan menormalkan kemaksiatan. Jagalah diri dan family dari pengaruh jelek mujaharah di media sosial.

Ketiga, bagi yang telah terjerumus, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Pintu tobat tetap terbuka selama nyawa tetap di kandung badan. Allah berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui pemisah terhadap diri mereka sendiri! Janganlah Anda berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'” (QS. Az-Zumar: 53)

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama belum sampai pada sakaratul maut.” (HR. At-Tirmidzi no. 3537 dan Ibnu Majah no. 4253, disahihkan Al-Albani)

Segeralah bertobat. Kembalilah kepada Allah. Sebelum terlambat.

أَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ؛ فَاسْتَغْفِرُوهُ، وَتُوبُوا إِلَيْهِ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khotbah kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:  يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

وَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ بِالْمَعَاصِي، وَنَعُوذُ بِكَ أَنْ نَكْشِفَ سِتْرَكَ عَلَيْنَا

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَحْيِي مِنْكَ حَقَّ الْحَيَاءِ، وَيَخَافُكَ حَقَّ الْخَوْفِ

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَزَيِّنْهَا بِالتَّقْوَىٰ وَالْإِيمَانِ

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ دِينِكَ، وَلَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلَىٰ رَعَايَاهُمْ

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

أَقِيمُوا الصَّلَاةَ

Baca juga: Khotbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering Diremehkan

***

Penulis: Muhammad Insan Fathin

Artikel Kincai Media

Selengkapnya