Buku Kisah Kh Helmi Abdul Mubin, Menag: Penyemangat Pesantren Sebagai Mercusuar Ilmu

May 15, 2026 06:58 PM - 1 jam yang lalu 73

Buku Mudiruna yang ditulis oleh KH Saiful Falah.

Kincai Media , JAKARTA — Meski telah wafat pada 2025 lalu, kisah hidup pendiri Pesantren Ummul Quro Leuwiliang Bogor, KH Helmi Abdul Mubin, terus hidup di tengah masyarakat.

Perjalanan hidupnya yang penuh keterbatasan tidak pernah mematahkan semangatnya untuk belajar dan berdakwah. Di tengah kehidupan yang keras, selalu ada jalan yang membawanya menemukan sinar pengetahuan dan keberkahan.

Bekal hikmah yang dia peroleh dari perjalanan menuntut pengetahuan di beragam lembaga pendidikan dalam dan luar negeri kemudian menjadi fondasi perjuangannya di bagian dakwah dan pendidikan.

Dakwahnya tidak berakhir dari satu mimbar ke mimbar lain. Dalam segala keterbatasan, dia apalagi sukses mendirikan pesantren, sesuatu yang pada masa itu tampak nyaris mustahil jika memandang perjalanan hidupnya.

Namun Allah mempunyai jalan-Nya sendiri. Dalam beragam kesulitan yang dihadapi, pintu-pintu kemudahan perlahan terbuka hingga KH Helmi sukses mendirikan dan mengembangkan Pesantren Ummul Quro.

Sejak berdiri pada 1993 hingga akhir hayatnya, banyak kalangan mengapresiasi perjuangan sang berilmu yang dikenal sebagai “penenun peradaban” tersebut.

Kisah hidup KH Helmi kemudian diabadikan oleh KH Saiful Falah, yang sekarang menjadi Pimpinan Pondok Pesantren Ummul Quro, penerus perjuangan almarhum.

Tidak seperti riwayat hidup pada umumnya, kisah alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor dan Universitas Islam Madinah itu disusun dengan style berkata yang mengalir dan dekat dengan pembaca.

Buku berjudul Mudiruna itu ditulis menggunakan perspektif pandang orang pertama, sehingga pembaca seolah mendengar langsung kisah hidup sang kiai.

“Aku merantau mencari bekal ilmu. Sudah cukup mata menyaksikan beban hidup yang teramat berat dipikul oleh Ayah. Sebagai laki-laki, tidak sepantasnya saya menambah beban. Aku kudu mengubah keadaan. Aku kudu pergi meninggalkan kampung halaman. Selamat tinggal pulau garam,” demikian salah satu quote dalam kitab tersebut.

Selengkapnya