Kincai Media ,TANGERANG -- Dengan style lugas namun penuh empati, dai internasional asal Zimbabwe, Mufti Menk membahas realitas pahit kehidupan modern, seperti perceraian, kehilangan pasangan, hingga kegagalan. Dalam ceramahnya, dia pun menanamkan optimisme bahwa Allah selalu menyiapkan sesuatu yang lebih baik.
Mufti Menk tidak menutup mata terhadap luka emosional yang dialami banyak orang, khususnya dalam pernikahan. Ia menegaskan bahwa menangis lantaran ditinggalkan pasangan bukanlah dosa, melainkan sistem manusiawi untuk bertahan.
“Apakah Anda boleh menangis? Ya, Anda boleh menangis lantaran Anda adalah manusia. Menangis adalah sistem mengatasi masalah. Itu tidak haram. Itu tidak apa-apa," ujar Mufti Menk saat berceramah di hadapan ribuan jamaah yang menghadiri kegiatan CONNECT-The Strong Minor Project yang digelar di ICE BSD, Tangerang, Sabtu (24/1/2026).
Namun setelah itu, menurutnya, orang yang ditinggalkan pasangannya itu sebaiknya bertawakal kepada Allah.
"Kamu kudu percaya. Insya Allah, ada sesuatu yang lebih baik yang telah Allah siapkan," ucapnya.
Ia mengingatkan angan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW agar Allah mengganti kehilangan dengan sesuatu yang lebih baik. Keyakinan ini, menurutnya, adalah fondasi utama ketenangan hidup seorang mukmin.
Doa tersebut berbunyi:
اللَّهُمَّ أجِرْنِي فِي مُصِيبَتي وأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْها
Artinya: “Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah saya tukar yang lebih baik daripadanya."
Dalam ceramahnya, Mufti Menk juga membujuk jamaah merenungi tujuan akhir kehidupan. Dunia, kata dia, sangat singkat—rata-rata hanya 70 tahun—dan semua yang dimiliki bakal ditinggalkan.
“Jadi, mulai sekarang, kita tahu bahwa hasil akhirnya adalah surga. Apa hadiahmu? Hadiahku adalah surga," kata Mufti Menk.
Kepada jamaah yang hadir, dia juga menyampaikan pesan optimisme, bahwa kehilangan pekerjaan, kegagalan, alias keluarnya seseorang dari hidup kita bisa jadi pintu menuju kehidupan yang lebih baik, apalagi menuju jalan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·