Kincai Media – Bitcoin (BTC) kembali mengincar level psikologis US$ 100.000, tetapi sebuah kajian teknikal jangka panjang memperingatkan bahwa reli dalam waktu dekat belum tentu menutup resiko koreksi yang lebih besar di kemudian hari. Dalam kajian TradingView tertanggal 16 Januari, analis TradingShot menyebut Bitcoin tetap berpotensi menghadapi penurunan lanjutan tahun ini, apalagi hingga US$ 60.000, berasas model siklus yang menggabungkan timeline halving, moving average, serta Fibonacci time extensions.
Menurut TradingShot, Bitcoin sedang mendekati ujian krusial di daily 200-day moving average. Ini merupakan level yang dalam siklus-siklus sebelumnya kerap menjadi pemicu ‘fase kedua’ bear market. Dalam pembacaan historis yang dia gunakan, penolakan di area tersebut biasanya tidak berakhir pada pullback singkat, melainkan berkembang menjadi tekanan turun yang lebih panjang.

Sinyal itu, kata Tradingshot, selaras dengan pembacaan rainbow cycle chart yang menautkan pergerakan nilai dengan peristiwa halving dan sasaran waktu Fibonacci. Dalam kerangka tersebut, area waktu yang dipantau berada pada ekstensi Fibonacci 4.618 di pekan terakhir September 2026, yang dalam pola historis pernah bertepatan dengan titik-titik low siklus.
Pada jendela waktu itu, model TradingShot memproyeksikan Bitcoin berada di kisaran US$ 60.000.
“Proyeksi dasar ini terjadi jauh sebelum halving berikutnya yang diperkirakan sekitar April 2028. Artinya, pasar dalam skenario bearish ini, tetap berada jauh dari fase ‘profit-taking’ siklus berikutnya,” ungkap TradingShot.
Dengan kata lain, model tersebut memposisikan 2026 sebagai periode yang berpotensi didominasi proses penyesuaian, bukan kelanjutan euforia.
Baca Juga: Memahami Pola Chart Netral yang Sering Menjebak Trader Kripto
Argumen bearish itu diperkuat oleh pendapat diminishing returns. Tradingshot menyoroti bahwa Bitcoin kandas menyentuh pita atas ‘oranye’ pada rainbow chart yang, dalam siklus terbaru ditempatkan di atas US$ 150.000. Ketidakmampuan menembus area itu dipandang sebagai indikasi bahwa tiap siklus memberi kenaikan persentase yang makin kecil, sehingga ruang upside ekstrem menjadi lebih terbatas dibanding era siklus-siklus awal.
Peringatan ini muncul di tengah kondisi pasar yang sempat kembali membangkitkan optimisme. Bitcoin sebelumnya keluar dari fase konsolidasi panjang di sekitar US$ 90.000, lampau reli mendekati US$ 98.000, didorong antara lain oleh arus masuk institusional.
Kenaikan itu sempat memunculkan ekspektasi bahwa posisi trader yang bertaruh pada pergerakan datar alias turun bakal terpaksa ditutup, mendorong nilai kembali melewati US$ 100.000. Namun dorongan tersebut sigap melemah, dan Bitcoin mulai menunjukkan tanda kelelahan, dan meningkatkan kesempatan pullback ke area low -US$ 90.000.
Pada saat penulisan, Bitcoin berada di sekitar US$ 95.123, turun sekitar 0,4 persen dalam 24 jam terakhir, namun tetap naik lebih dari 5 persen secara mingguan. Dari perspektif moving average, 50-day SMA di US$ 90.095 tetap berada di bawah harga, yang biasanya dibaca sebagai support momentum jangka pendek. Sebaliknya, 200-day SMA di US$ 105.657 berada di atas harga.
Sementara itu, RSI 14-hari di 63,30 tetap berada di daerah netral, belum memasuki area overbought, yang secara teknikal memberikan ruang untuk kenaikan lanjutan tanpa sinyal pembalikan langsung. Namun, dalam kerangka TradingShot, ruang tersebut tidak meniadakan resiko lebih besar yang mungkin baru muncul ketika Bitcoin berjumpa resisten tren jangka panjangnya, terutama jika penolakan di area 200-day MA kembali memicu fase penurunan yang lebih dalam.
Disclaimer: Semua konten yang diterbitkan di website Kincai Media ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan yang telah tayang di Kincai Media bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata duit digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Kincai Media tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·