Kincai Media , JAKARTA -- Di kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW, ada seorang yang menyandang disabilitas. Dialah Abdullah bin Ummi Maktum.
Keterbatasan bentuk tidak lantas melemahkan ketaatannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, Muhammad SAW.
Difabel netra tidak menjadi argumen baginya untuk enggan pergi ke masjid alias menghadiri majelis ilmu.
Ia tetap berangkat ke Masjid Nabawi untuk menunaikan sholat jamaah serta mendengarkan dakwah Rasulullah SAW. Bahkan, kedua perihal itulah yang paling menyenangkan hatinya.
Walaupun tidak bisa melihat, Ibnu Ummi Maktum terkenal peka terhadap waktu. Ia dapat mengetahui masuknya waktu shalat dengan tepat.
Karena itu, Nabi Muhammad SAW membolehkannya untuk mengumandangkan azan bilamana Bilal bin Rabah berhalangan.
Semangatnya dalam beragama didasari niat tulus Lillahi Ta'ala. Allah SWT pun meridhai langkah-langkahnya yang menuju kebajikan.
Hal itu tersirat dalam perkataan Rasul SAW ketika berjumpa dengannya, “Selamat datang wahai orang yang dititipkan Tuhanku untuk diperlakukan dengan baik.” Pernah beliau bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau kehilangan penglihatan?” “Sejak kecil, ya Rasulullah,” jawab Ibnu Ummi Maktum.
Kemudian, Nabi Muhammad SAW bersabda, Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, 'Jika Aku mengambil penglihatan hamba-Ku, tidak ada jawaban yang lebih layak selain surga.'”
Menghadapi teguhnya ketaatan sang sahabat Nabi SAW tersebut, setan sampai-sampai kehabisan akal.
Biasanya musuh Allah SWT itu banget doyan merintangi Muslimin yang hendak berjamaah di masjid dengan pelbagai rayu rayu. Namun, makhluk itu justru menolong Ibnu Ummi Maktum dalam perjalanan ke Masjid Nabawi.
Dikisahkan, Sang Sahabat dihampiri seorang pemuda saat sedang melangkah menuju masjid. Remaja tersebut dengan sangat hati-hati menuntunnya sehingga perjalanan ke Masjid Nabawi tidak terkendala satu kerikil pun.
Sesampainya di tujuan, Ibnu Ummi Maktum tidak hanya berterima kasih kepada penolongnya itu. Ia pun mau mendoakannya.
“Tolong sebutkan namamu,” kata Ibnu Ummi Maktum. “Lebih baik tidak perlu kusebutkan,” kata si pemuda. Tiga kali sahabat Rasul itu mengusulkan permintaan.
Namun, jawaban yang sama pun disampaikan laki-laki penolong tersebut. Ibnu Ummi Maktum kemudian berkata, “Jika demikian sikapmu, cukuplah sampai di sini saja engkau menuntunku ke masjid. Aku tidak mau engkau menolongku lagi lantaran engkau tidak mau didoakan.”
Akhirnya, si pemuda mengungkapkan alasannya. “Wahai Ibnu Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya saya adalah iblis.”
Terkejut mendengar jawaban itu, laki-laki buta tersebut bertanya lagi, “Lantas, kenapa Anda menuntunku ke masjid dengan selamat? Bukankah semestinya Anda mencegahku sampai ke masjid?”
“Mungkin engkau sudah lupa. Beberapa waktu lalu, engkau melangkah sendirian ke masjid dan kakimu tersandung batu. Apa yang kau ucapkan saat terjatuh? Engkau justru bermohon kepada Allah SWT. Dia lampau mengampuni dosamu yang separuh,” kata Iblis.
“Maka, saya tidak mau kejadian itu terulang lagi. Aku takut jika engkau jatuh lagi dalam perjalanan ke masjid, Allah bakal menghapuskan dosamu yang separuhnya lagi. Jika begitu, siasialah kami menggodamu selama ini,” ujarnya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·