Dialog Tentang Ujian Hidup

Nov 28, 2025 08:52 PM - 5 bulan yang lalu 161228

Kincai Media , JAKARTA -- Dahulu kala, tiga orang ustadz yang masyhur saleh dan bijak mengunjungi kediaman seorang wanita sufi, Rabi'ah al-Adawiyah. Ketiga laki-laki berilmu itu adalah Syekh Hasan al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Syaqiq al-Balkhi.

Mereka berjamu lantaran Rabiah saat itu sedang sakit keras. Sesampainya di tujuan, sang tuan rumah mempersilakan mereka untuk masuk dan menemuinya.

Ketiganya masuk dengan takzim. Setelah mengucapkan salam, Syekh Hasan al-Bashri memulai pembicaraan, "Seorang manusia tidak dapat dipercaya kata-katanya jika dia tidak sabar menanggung 'cambukan' Allah."

Hasan bermaksud mengingatkan Rabi'ah agar sabar dalam menghadapi musibah alias ujian yang sedang dialaminya. Namun, sang perempuan sufi membalas pernyataan tersebut. Baginya, perkataan sang syekh tetap kurang tajam.

"Kata-katamu itu tetap berbau egoisme," kata Rabiah.

Kemudian, Syaqiq al-Balkhi menimpali, "Seorang manusia tidak dapat dipercaya kata-katanya jika dia tidak berterima kasih lantaran 'cambukan' Allah."

Menyadari bahwa al-Balkhi mengaitkan antara musibah dan rasa sabar, Rabiah seketika tersenyum. Namun, dia lampau berkata, "Ada yang lebih baik daripada itu."

Sesudah itu, para tamu pun termenung. Mereka merenungkan, sesungguhnya apa yang hendak dimaksud oleh Rabiah.

Malik bin Dinar lampau berkata, "Seorang manusia tidak dapat dipercaya kata-katanya jika dia tidak merasa senang ketika menerima 'cambukan' Allah."

Ketiga tamu itu mengira bahwa pernyataan Malik-lah yang paling tepat, ialah paling mewakili isi hati dan pikiran Rabiah mengenai makna musibah. Namun, perkiraan ini meleset.

"Masih ada yang lebih baik dari itu," ujar Rabi'ah.

Setelah merenung, akhirnya mereka sepakat menanyakan perihal ini pada Rabi'ah sendiri.

Berkatalah sang wanita sufi, "Seorang manusia tidak dapat dipercaya kata-katanya jika dia tidak lupa kepada 'cambukan' Allah, ketika dia merenungkan-Nya."

"Subhanallah...." Mereka bertiga tertunduk diam.

Dalam hati terdalam, mereka mengakui kehebatan Rabi'ah al-Adawiyah tentang makna kepasrahan total seorang hamba Allah kepada Sang Mahapencipta.

Dari perbincangan tersebut, sekurang-kurangnya ada tiga langkah menyikapi "cambukan Allah", yakni ujian hidup atau musibah yang sedang datang. Masing-masing langkah merepresentasikan level keagamaan yang berbeda.

Level tertinggi dilakukan kaum 'arifiin ialah mereka yang memahami makrifatullah. Ini sebagaimana disampaikan Rabi'ah.

Ketika ujian alias musibah datang, orang yang arif menghadapinya dengan senantiasa berzikir kepada Allah. Ia menyaksikan (musyahadah) bahwa dirinya tidaklah penting---apakah sedang menerima musibah alias tidak. Yang terpenting, dan selalu utama, adalah Allah Ta'ala. Fokusnya hanya kepada-Nya. Lantas, hamba Allah ini "melebur" (fana') dalam 'ketiadaan', karena yang ada hanyalah Allah.

Level kedua adalah apa yang telah disampaikan Syekh Hasan al-Bashri. Seseorang yang sedang mendapat musibah condong memohon kepada Allah agar dirinya diberi kesabaran dan ketabahan.

Adapun level terakhir biasa dilakukan kebanyakan orang awam. Ketika ujian alias musibah datang, mereka memohon kepada Allah agar musibah itu dapat segera lenyap alias teratasi. Dalam perihal ini, diniatkan alias tidak, sesungguhnya yang difokuskannya adalah dirinya sendiri, bukan makrifatullah.

Selengkapnya