Analis Makro Klaim Kripto Berpeluang Diuntungkan Dengan Intervensi Dolar-yen

Jan 26, 2026 10:07 AM - 3 bulan yang lalu 96869

Kincai Media – Seorang analis makro dengan nama akun media sosial X ‘Bull Theory”, menyatakan bahwa bank sentral Amerika Serikat sedang bersiap melakukan langkah yang sangat jarang terjadi.

Dalam pembaruannya pada Minggu (26/1/2026), Bull Theory menuliskan bahwa bank sentral Amerika bakal menjual dolar AS dan membeli Yen Jepang. Ia menyebut bahwa New York Fed disebut telah melakukan ‘rate checks’, yang dia anggap sebagai sinyal awal sebelum intervensi mata duit sungguhan.

Menurut Bull Theory, tekanan terhadap Jepang menjadi latar utama narasi ini. Yen disebut telah melemah dalam waktu lama, sementara imbal hasil obligasi Jepang berada di level tinggi dan Bank of Japan tetap condong hawkish.

“Kombinasi itu, katanya tidak hanya menciptakan stres domestik, tapi juga bisa menyebar ke pasar dunia dan membikin otoritas moneter internasional mulai ‘serius’ meletakkan perhatian,” ungkap Bull Theory.

Ia menjelaskan, Jepang dinilai sudah beberapa kali mencoba mempertahankan nilai tukar sendirian, namun dampaknya tidak memperkuat lama. Ia menekankan perbedaan besar antara intervensi unilateral dan intervensi terkoordinasi, seraya mengaitkannya dengan preseden sejarah.

“Ketika tindakan dilakukan, Amerika dan Jepang, hasilnya condong lebih efektif menstabilkan yen dan memicu perubahan besar di aset global,” ujarnya.

Baca Juga: Ada Koin Meme yang Naik Ratusan Persen Usai Postingan Gedung Putih, Apa Itu?

Dari sisi, Bull Theory membangun skenario yang dia sebut berpotensi bullish bagi secara luas. Ia menjelaskan bahwa jika otoritas Amerika betul-betul melemahkan dolar lewat intervensi, efeknya bisa terasa seperti penambahan likuiditas global. Dalam kondisi seperti itu, aset-aset beresiko biasanya lebih mudah menguat, dan arus modal bisa mencari instrumen yang dinilai ‘belum sempat repricing’.

Dalam perihal ini, dia mengingatkan pada para penanammodal mata duit digital bahwa penguatan yen bisa menjadi resiko jangka pendek. Alasannya ialah tetap ada biaya besar yang terikat pada yen carry trade, strategi meminjam yen murah lampau menempatkannya ke aset berimbal hasil lebih tinggi seperti saham dan kripto.

“Saat yen menguat cepat, sebagian pelaku carry trade bisa dipaksa menutup posisi dan menjual aset untuk mengembalikan pinjaman, yang berpotensi menekan nilai mata duit digital secara tiba-tiba,” kata Bull Theory.

Namun di sisi lain, dirinya juga menilai pelemahan dolar justru membuka kesempatan jangka panjang bagi kripto. Ia menyoroti Bitcoin, yang menurutnya tetap berada di bawah puncak 2025 dan termasuk aset besar yang ‘belum sepenuhnya’ menyesuaikan diri dengan perubahan makro.

“Kalau intervensi terkoordinasi betul terjadi dan dolar melemah, menurut saya pasar bakal mencari aset yang terlihat relatif murah terhadap pergeseran tersebut, dan mata duit digital bisa menjadi salah satu kandidat utama,” pungkas Bull Theory.

🇺🇸 THE FED IS PREPARING TO SELL U.S. DOLLARS AND BUY JAPANESE YEN FOR THE FIRST TIME THIS CENTURY.

The New York Fed has already done rate checks, which is the exact step taken before real currency intervention. That means the U.S. is preparing to sell dollars and buy yen.

This… pic.twitter.com/7xFReOFoDo

— Bull Theory (@BullTheoryio) January 25, 2026

Disclaimer: Semua konten yang diterbitkan di website Kincai Media ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan yang telah tayang di Kincai Media bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata duit digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Kincai Media tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya