Kubah hijau di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi menjadi tanda di bawahnya terdapat makam Rasulullah SAW dan dua sahabat mulia, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Kincai Media , JAKARTA -- Proses belajar-mengajar sering kali bertumpu pada keahlian seorang pembimbing dalam menyampaikan info dan pengetahuan pengetahuan. Para siswa alias publik umumnya tidak jarang meleset dari pemahaman yang semestinya. Hal itu lantaran adanya kesenjangan komunikasi (miscommunication) antara kedua belah pihak.
Dalam konteks ini, Rasulullah Muhammad SAW merupakan suri teladan yang terbaik. Beliau shalallahu 'alaihi wasallam memberikan sekurang-kurangnya tiga metode. Seluruhnya dapat menjadi model bagi pembimbing alias insan pengajar dalam proses transmisi keilmuan.
Kesabaran
Untuk memahaminya, lihatlah gimana kitab suci Alquran diturunkan oleh Allah Ta'ala kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Kitabullah itu sampai secara berangsur-angsur, tidak seketika utuh.
Oleh lantaran itu, Rasulullah SAW pun mengajarkan Alquran dan menerapkannya seiring dengan tahapan-tahapan turunnya teks yang teramat mulia itu. Proses pengajaran ini memerlukan waktu yang panjang dan daya juang yang tinggi.
Hikmahnya, seseorang hendaknya bersabar dalam memberikan materi-materi keilmuan kepada sasaran didiknya. Semua butuh proses. Tidak mungkin seketika, lantaran jika perihal yang buru-buru diterapkan, justru memperbesar kesempatan miskomunikasi.
Akrab
Meskipun berdomisili banget mulia di tengah umat manusia, Rasulullah SAW menyukai kerendahan hati. Sebab, itulah kunci dalam menjalin komunikasi dan relasi sosial yang baik dengan siapapun.
Dengan demikian, pengajaran pengetahuan pengetahuan bakal lebih diterima dengan simpati dan mendapatkan khalayak yang semakin luas. Tidak mungkin, umpamanya, seorang ustadz hidup dalam keadaan eksklusif. Adanya kerahiban sendiri dikecam dalam aliran Islam.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·