Tafsir Surah Al-kahfi Ayat 32-44 (bag. 1): Dialog Mukmin Dan Kafir Dalam Merespon Nikmat Dunia

Jan 11, 2026 11:00 AM - 3 bulan yang lalu 110757

Allah ﷻ mendidik hamba-Nya dengan beragam langkah dalam Al-Quran, salah satunya dengan permisalan, kisah, serta perbincangan penuh hikmah. Semua metode ini mempunyai pengaruh yang berbeda serta menjadikan suasana yang tidak monoton. Sehingga para pembaca Al-Quran menjadi terus antusias menggali hikmah di dalamnya. Salah satu potongan perbincangan yang dapat menjadi pelajaran ini terkandung dalam surah Al-Kahfi yang setiap pekan dianjurkan untuk dibaca. Allah ﷻ berfirman,

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)

Di dalam QS. Al-Kahf: 32–44 kita bakal mendapatkan beberapa mutiara hikmah yang bertebaran. Rangkaian ayat ini berisi tentang perbincangan dua orang laki-laki, satunya kafir dan lainnya mukmin. Lelaki kafir ini mempunyai kekayaan melimpah berupa dua kebun anggur beserta pohon-pohon kurma. Ia merasa bahwa seluruh kekayaan kekayaannya datang atas sebabnya, bukan lantaran pemberian Allah ﷻ. Lalu terjadi perbincangan dengan seorang temannya laki-laki mukmin yang membahas nikmat bumi yang telah Allah ﷻ berikan kepada laki-laki kafir ini.

Gambaran kenikmatan pemilik kebun kafir dan cita-cita orang fajir

Allah ﷻ membuka kisah ini dengan perintah untuk mengambil pelajaran dari sebuah kisah seorang pemilik kebun anggur. Dalam firman-Nya, Allah ﷻ menggambarkan terlebih dulu sungguh kaya dan nikmatnya kekayaan kekayaan laki-laki kafir tersebut. Allah ﷻ berfirman,

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)

كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا

“Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 33)

Gambaran tata letak kebunnya menunjukkan keluasan lahan yang dimilikinya serta ragam produk kebunnya. Kebun itu disifatkan terus membuahkan hasil yang melimpah. Di tengah-tengah kebun itu dialiri sungai yang mengairi perkebunannya. Betapa gambaran nikmat tiada tara bagi seorang pemilik kebun, yang menunjukkan kemakmurannya.

Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menyebut bahwa tidak hanya mempunyai kekayaan yang besar, tetapi juga pengikut yang lebih kuat. Allah ﷻ sebutkan perkataan sombong orang kafir itu kepada temannya yang mukmin dalam firman-Nya,

وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

“Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka dia berbicara kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” (QS. Al-Kahf: 34)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkataan “أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا” adalah banyaknya pembantu dan anak-anak. Beliau menukilkan perkataan Qatadah rahimahullah yang menjelaskan maksud ucapan ini,

تِلْكَ -وَاللَّهِ-أُمْنِيَةُ الْفَاجِرِ: كَثْرَةُ الْمَالِ وَعِزَّةُ النَّفَرِ

“Hal itu, demi Allah, adalah perihal yang diharap-harapkan oleh orang fajir, yakni; banyaknya kekayaan dan pengikut yang kuat.” [1]

Terambil pelajaran dari situ bahwasanya bercita-cita bumi semata adalah ciri-ciri dari orang fajir. Jika dia terus berambisi memperbanyak kapital yang dimilikinya sendiri, serta mengidamkan followers yang hebat-hebat, maka ini adalah orientasi orang yang lalai. Sungguh, itu semua nantinya tidak bakal membantunya sama sekali, sebagaimana yang nantinya bakal disebutkan di ayat selanjutnya.

Takjub dengan bumi dan ketertipuan

Akan tetapi, pemilik kebun kafir ini menganggap bahwa semua nikmat ini lantaran dirinya, bukan pemberian Allah ﷻ. Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menjelaskan tindak-tanduk orang kafir itu,

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا

“Dan dia memasuki kebunnya, sedang dia kejam terhadap dirinya sendiri; dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak bakal lenyap selama-lamanya.” (QS. Al-Kahf: 35)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa maksud “zalim” di situ adalah laki-laki itu memasuki kebunnya dalam keadaan sombong dan membangkang kepada Allah ﷻ. Ia tak mengakui bahwa nikmat di bumi ini fana dan tak kekal. Ia pun mengingkari bahwa apa yang dimilikinya semua bakal dihisab di hari kebangkitan. Hal ini diucapkannya pula dalam ucapan yang penuh kepongahan.

Orang itu terperdaya dengan nikmat yang Allah ﷻ bentangkan untuknya. Setidaknya ada empat perihal yang menyebabkan dia terperdaya menurut Ibnu Katsir, yakni,

وَذَلِكَ لِقِلَّةِ عَقْلِهِ، وَضَعْفِ يَقِينِهِ بِاللَّهِ، وَإِعْجَابِهِ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا، وَكُفْرِهِ بِالْآخِرَةِ

“Hal ini dikarenakan (1) kurangnya akal, (2) lemahnya kepercayaan terhadap Allah, (3) kagum dengan kehidupan bumi dan perhiasannya, (4) mengingkari hari kiamat.”

Maka, kita dapat mengambil pelajaran bahwa agar tidak terperdaya dunia, kita kudu menguatkan empat perihal yang menjadi kebalikan dari karena laki-laki kafir itu tertipu dengan hartanya. Seorang mukmin hendaknya:

1) Mempertajam akalnya dengan ilmu;

2) Menguatkan kepercayaan kepada Allah ﷻ dengan mempelajari dan mengenalnya;

3) Zuhud terhadap bumi dan tidak menjadikannya sebagai tujuan utama;

4) Meyakini sepenuhnya bahwa hari hariakhir bakal tegak serta hisabnya bakal berat.

Allah ﷻ berfirman,

وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا

“Dan saya tidak mengira hari hariakhir itu bakal datang, dan jika sekiranya saya kembalikan kepada Tuhanku, pasti saya bakal mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 36)

Lelaki kafir itu mengira bahwa hari hariakhir tidak betul-betul terjadi. Ia merasa bahwa apa yang dimilikinya tidak bakal dihisab dan dipertanggungjawabkan. Ia mengira bahwa kekayaannya adalah hidayah dan kenikmatan yang Allah ﷻ berikan kepadanya di dunia. Bahkan dia mengira bahwa Allah ﷻ telah memberikan kemuliaan bagi dirinya lantaran telah diberikan porsi kenikmatan di dunia.

Keyakinan bahwa dia justru mendapatkan kemuliaan dari Allah ﷻ dibangun di atas pengandaian jika Allah ﷻ betul-betul yang memberikan nikmat, serta kepercayaan seandainya hari akhir betul-betul ada. Ungkapan ini menunjukkan penentangan keras dan penekanan terhadap perihal yang lebih esensial lagi bahwa dirinya tak percaya sama sekali dengan konsep hari alambaka dan Allah ﷻ sebagai pemberi rezeki. Andai pun perihal ini benar, dia pun berkeyakinan bahwa dia bakal mendapatkan kedudukan yang baik alias yang lebih baik lantaran Allah ﷻ telah memuliakannya.

Ibnu Katsir menerangkan kalimat ini dengan lebih detail,

وَلَئِنْ كَانَ مَعَادٌ وَرَجْعَةٌ وَمَرَدٌّ إِلَى اللَّهِ، ليكونَنّ لِي هُنَاكَ أَحْسَنَ مِنْ هَذَا لِأَنِّي مُحظى عِنْدَ رَبِّي، وَلَوْلَا كَرَامَتِي عَلَيْهِ مَا أَعْطَانِي هَذَا

“Seandainya betul ada hari kebangkitan dan kembali kepada Allah, niscaya kelak di sana lebih baik bagiku daripada yang ini, lantaran sesungguhnya saya adalah orang yang dimuliakan oleh Tuhanku. Dan jika bukan lantaran kemuliaanku di sisi-Nya, niscaya Dia tidak bakal memberikan semua ini kepadaku.”

Sebagaimana ucapan ini diucapkan pula oleh orang-orang yang tertipu dengan bumi seperti dalam potongan beberapa ayat berikut,

وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى

“Dan jika saya dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya saya bakal memperoleh kebaikan pada sisi-Nya.” (QS. Fussilat: 50)

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لأوتَيَنَّ مَالا وَوَلَدًا

“Maka apakah Anda telah memandang orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan dia mengatakan, “Pasti saya bakal diberi kekayaan dan anak.” (QS. Maryam: 77)

Maka, sikap perihal ini bukan lagi perihal yang asing untuk kita ketahui. Memanglah kelaziman orang kafir, zalim, dan fajir tidak bakal pernah sadar bahwa dirinya dalam kesalahan. Justru malah mengira bahwa dirinya adalah orang yang mulia lantaran nikmat Allah ﷻ yang dibuka kepadanya di bumi yang fana ini.

Bahkan mereka mengira bahwasanya nikmat yang dibuka di bumi ini adalah representasi atas kedudukannya di akhirat. Inilah yang disebut dengan istidraj, ketertipuan yang membikin seseorang terus tersungkur ke dalam lembah kesesatan. Allah ﷻ telah membantah persangkaan ini dalam QS. Al-Fajr: 15-17,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِي – وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِي – كَلَّا

“Adapun manusia, andaikan Rabbnya mengujinya lampau dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun andaikan Rabbnya mengujinya lampau membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Rabbku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak demikian …” (QS. Al-Fajr: 15-17)

Dalam ayat lain, Allah ﷻ juga menjelaskan orang yang tertipu dengan nikmat Allah ﷻ dengan permisalan pemilik kebun juga. Allah ﷻ sebutkan perihal ini dalam QS. Al-Qalam: 17–33. Semoga Allah ﷻ melindungi kita dari ketertipuan atas nikmat Allah ﷻ yang banyak ini.

Kisah ini juga mengandung pelajaran gimana seorang muslim berargumentasi dengan orang kafir dalam masalah ketuhanan. Tema teologi dalam realita modern menjadi perihal yang sangat lumrah diperbincangkan anak muda. Oleh lantaran itu, krusial sekali bagi kaum muslimin untuk menyimak metode perbincangan yang tersirat dalam ayat-ayat Allah ﷻ berikut ini di bagian tulisan selanjutnya.

[Bersambung]

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

[1] https://tafsir.app/ibn-katheer/18/34

Selengkapnya