Ilustrasi: Masjid tempat ibadah umat Muslim.
Kincai Media , JAKARTA -- Dalam kitab Al Hikam Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari mengatakan, peralatan siapa tidak berterima kasih maka nikmatnya bakal segera hilang. Dan peralatan siapa yang bersyukur, maka dia telah mengikat nikmatnya dengan tali.
Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
wa idz ta'adzdzana rabbukum la'in syakartum la'azîdannakum wa la'ing kafartum inna ‘adzâbî lasyadîd
(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika Anda bersyukur, niscaya Aku bakal menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika Anda mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku betul-betul sangat keras.”
Syekh Abdul Madjid as Syarnubi Al Azhari dalam Syarah Al Hikam menjelaskan, berterima kasih secara bahasa berfaedah perbuatan yang muncul sebagai akibat dari pengagungan hati kepada Zat yang Maha Memberi nikmat, lantaran Dia-lah yang Maha Menganugerahkan segaal kenikmatannya. Dan berterima kasih dapat dilakukan dengan beragam cara, baik itu dengan lisan, perbuatan personil badan, maupun kepercayaan dalam hati.
Adapun berterima kasih secara istilah berfaedah menggunakan segala kenikmatan yang diberikan Allah untuk keataatan kepada-Nya. Ketika Syekh Juneid berumur 7 tahun beliat ditanya: "Wahai anak kecil, apakah syukur itu?"
Beliau menjawab: "Syukur adalah engkau tidak bermaksiat dengan nikmat ALlah."
English (US) ·
Indonesian (ID) ·