Nyadran Perdamaian 2026: Harmoni Iman, Budaya, Dan Alam

Jan 28, 2026 02:33 PM - 3 bulan yang lalu 89698
 Harmoni Iman, Budaya, dan AlamNyadran Perdamaian 2026: Harmoni Iman, Budaya, dan Alam

Kincai Media – Indonesia merupakan negara kemajemukan agama, maka perlu sebuah upaya untuk menjaga kerukunan antar umat beragama, dengan tanpa menghilangkan tradisi yang ada di masyarakat. Melalui kampanya moderasi kepercayaan masif dikampanyekan selama masa kedudukan Mantan Menteri Agama RI periode 2014-2019 lalu.

Moderasi kepercayaan sendiri menjunjung dua prinsip ialah seimbang memahami teks (kitab suci) keagamaan kudu sesuai dengan konteks, dan menjujung kemanusian sebagai inti dari berakidah sendiri.

Pada tanggal 13-16 Januari lalu, AMAN Indonesia mengundang beberapa content creator terpilih untuk menyaksikan secara langsung serangkaian kegiatan Nyadran Perdamaian di desa Krecek dan Gletuk.

Menariknya, peserta yang terpilih adalah kebanyakan pemeluk kepercayaan Islam dan mereka di tempatkan di sebuah desa dengan kekuasaan pemeluk kepercayaan Budha. Selama empat malam peserta bakal mempelajari budaya, kehidupan, dan kearifan budaya lokal. Lalu, apakah perihal ini menentang hukum Islam?

Moderasi Agama dalam Budaya Nyadran Perdamaian

Salah satu tradisi Jawa yang melekat pada masyarakat adalah Nyadran. Menurut budaya kejawen, nyadran alias sadranan merupakan kegiatan berkunjung ke makam nenek moyang, ada juga yang memaknai sadran sebagai corak kembali menziarahi makam alias punden yang dianggap sebagai cikal bakal suatu desa.

Tetapi dalam praktiknya nyadran sendiri sangat beragam, ada yang membawa menyan, bunga, air, dan mendoakan. Namun menariknya, di desa Krecek dan Gletuk, dalam ‘Nyadran Perdamaian’ bukan hanya dilakukan oleh kalangan orang muslim, melainkan sebuah titik jumpa kepercayaan budha dan Islam.

Dalam al-Quran sebagai kitab suci kepercayaan Islam sendiri menjelaskan bahwa pada hakikatnya manusia diciptakan dengan keberagamanan. Sebagaimana dalam QS. Al‑Hujurāt ayat 13 menyebutan:

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثٰى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan Anda dari seorang laki‑laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan Anda berbangsa‑bangsa dan bersuku‑suku agar Anda saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara Anda di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari satu asal dan menjadikannya berbangsa‑bangsa dan bersuku‑suku agar saling mengenal dan saling menolong, bukan saling mengejek/bermusuhan. Jika mengimplikasikan dalam Nyadran, maka ayat ini dapat menjadi landasan adanya tradisi yang bermaksud untuk memperkuat persaudaraan dan kerjasama sosial. Namun, perlu menggarisbawahi moderasi kepercayaan bukan berfaedah kudu meninggalkan iktikad dan tauhid masing-masing individu.

Menjaga Alam dalam Budaya Nyadran

Pada rangkaian nyadran terdapat kegiatan merawat bumi seperti membersihkan lingkungan dengan gotong royong. Sehari sebelum hari H tradisi nyadran di desa Krecek dan Gletuk, penduduk desa kompak beramai-ramai ke pemakaman setempat untuk bersih-bersih area di lingkungan makam. Baik laki-laki maupun perempuan, mereka beramai-ramai membawa perangkat kebersihan seperti sapu, arit, dan lain sebagainya. Kegiatan ini juga selaras dengan aliran Islam untuk menjaga lingkungan.

Allah berfirman dalam Quran QS. Hūd: 61:

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

Artinya: “Dialah yang menciptakan Anda dari bumi dan memerintahkan Anda untuk memakmurkannya.”

Dalam Tafsir al-Mishbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa frasa “وَاسْتَعْمَرَكُمْ” tidak sekadar berarti tinggallah di bumi, melainkan Allah memberi mandat kepada manusia untuk membangun, mengelola, dan memakmurkan bumi secara bertanggung jawab.

Menambahkan, kata وَاسْتَعْمَرَ mengandung makna permintaan sekaligus amanah. Artinya, manusia diminta (bukan diberi izin tanpa batas) untuk mengelola bumi dengan langkah yang membawa kebaikan, keberlanjutan, dan kemaslahatan, bukan kerusakan.

Pembacaan Doa Simbolik

Lalu pada hari penyelenggaraan nyadran, masyarakat mendatangi makam dengan membawa makanan seperti kue bernuansa merah putih yang konon mempunyai filosofi tertentu. Menariknya, masing-masing family tidak luput membawa ingkung sebagai penyempurna seremoni nyadran.

Dalam rangkaian nyadran yang diadakan di daerah pemakan di dusun Krecek diawali pembacaan tahlil dan angan dari kepercayaan Islam dan Budha. Kemudian dilanjutkan sambutan beberapa tokoh seperti Bupati, Direktur AMAN Indonesia, dan tokoh kepercayaan setempat.

Tentu beberapa agenda ini bakal menimbulkan beberapa pernyataan, apakah budaya tersebut menentang hukum Islam?

Doa dalam nyadran dapat dikaitkan dengan tradisi angan simbolik. Sebuah riwayat sahih dari Imam al-Bukhari mengisahkan :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى يُصَلِّي وَأَنَّهُ لَمَّا دَعَا أَوْ أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ، اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ

Suatu kali, Nabi Saw keluar untuk melaksanakan salat (istisqa). Ketika beliau hendak bermohon (meminta hujan), beliau menghadap ke arah kiblat sembari memutar selendangnya. (H.R. Al-Bukhari).

Hadis tersebut mempunyai beberapa ragam redaksi, namun semuanya menyampaikan pesan serupa. Intinya, tindakan Nabi Saw yang membalikkan posisi selendangnya bagian atas ke bawah, bagian bawah ke atas, serta sisi kiri ke kanan dan kanan ke kiri hanyalah sebuah simbol alias tanda yang menggambarkan angan agar keadaan berubah, ialah dari musim tandus menuju turunnya hujan.

Dari penjelasan di atas maka dapat kita tarik konklusi bahwa tradisi nyadran bukan perihal yang perlu diperdebatkan, melainkan sebuah budaya yang dapat diambil nilai-nilai positifnya.

Dengan adanya nyadran dapat memperkuat solidaritas antar umat berakidah dan menjaga keselarasan masnyarakat setempat. Nyadran juga tradisi yang patut dijaga untuk melestarikan lingkungan dan sebuah upaya untuk merawat alam.

Selengkapnya