Metode Dan Kaidah Dakwah Islam

Jan 27, 2026 02:20 PM - 3 bulan yang lalu 90438

Kincai Media , JAKARTA -- Sejak wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW lebih dari 1400 tahun silam, Islam disebarkan melalui dakwah. Rasulullah SAW pun telah memberikan suri teladan tentang cara-cara dakwah.

Merujuk pada sirah Nabawiyah, awalnya Rasulullah SAW melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi, door to door dari rumah ke rumah. Inilah fase yang penuh tantangan. Betapa jumlah kaum Muslimin saat itu sangat mini jika dibandingkan dengan kaum musyrikin, apalagi para petinggi yang enggan meninggalkan tradisi Jahiliyah.

Selain dari kaum Quraisy, cercaan dan rintangan juga datang dari sebagian kalangan family SAW sendiri yang belum menerima aliran Islam. Ambil contoh, seorang om Nabi SAW yang berjulukan Abu Lahab. Ia banget memusuhi dakwah Islam. Alquran apalagi mengabadikan sifatnya dalam surah al-Lahab.

Setelah dakwah sembunyi-sembunyi, turun perintah dari Allah agar Rasulullah SAW berceramah secara terang-terangan. Ini terus beliau lakukan, tanpa menyerah dan tunduk pada kemauan kaum musyrikin. Selanjutnya, Nabi SAW dan kaum Muslimin berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Banyak peristiwa yang dilalui Nabi SAW untuk menyampaikan risalah Islam, baik selama di Makkah, Madinah, maupun kota-kota sekitar. Puncaknya, ketika pembebasan Makkah (fathu Makkah) terjadi.

Nabi SAW merupakan seorang ummiy, ialah tidak bisa membaca dan tak bisa pula menulis. Namun, perihal itu tidak berfaedah beliau SAW menafikan pentingnya metode dakwah melalui tulisan. Maka dari itu, banyak surat-surat yang berisi rayuan memeluk Islam dikirimkannya ke para petinggi bangsa-bangsa dunia, baik Arab maupun non-Arab.

Di antara para pemimpin yang menerima surat dari Rasul SAW itu adalah, Raja Heraklius dari Bizantium; Raja Mukaukis dari Mesir; Raja Kisra dari Persia (Iran); serta Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).

Kaidah berdakwah

Agar dakwah tepat sasaran, Alquran telah menunjukkan kaidah-kaidahnya. Umpamanya, dalam surah an-Nahl ayat ke-125. Artinya, "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan langkah yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."

Tiga norma dalam berceramah itu adalah: (1) al-hikmah (hikmah); (2) al-mau'izah al-hasanah (pelajaran yang baik), dan (3) al-mujadalah billati hiya ahsan (mendebat dengan langkah yang baik).

Dakwah bil hikmah berfaedah menyampaikan dakwah dengan terlebih dulu mengetahui tujuannya dan mengenal secara betul dan mendalam orang alias masyarakat yang menjadi sasarannya.

Dakwah bilmau'izah hasanah, berfaedah memberi kepuasan kepada jiwa seseorang alias organisasi yang menjadi sasaran dakwah. Hal itu dengan cara-cara yang baik, seperti memberi nasihat, pengajaran, serta teladan yang positif.

Sementara itu, dakwah mujadalah billati hiya ahsan adalah dakwah yang dilakukan dengan langkah berganti pikiran (dialog), sesuai kondisi masyarakat setempat tanpa melukai emosi mereka.

Tiga corak dakwah inilah yang ditempuh Nabi SAW dalam menunaikan petunjuk dari langit. Dari mana dakwah kudu dimulai? Dalam sebuah firman-Nya, Allah menyatakan, "Berilah pengajaran kepada keluargamu terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, ialah orang-orang yang beriman." (QS asy-Syu'ara: 214). 

Selengkapnya