Mengenal Nama Allah “al-kariim” Dan “al-akram”

Jan 12, 2026 11:00 AM - 3 bulan yang lalu 108513

Allah Tabāraka wa Ta‘ālā mempunyai nama-nama yang paling indah. Barang siapa mengimaninya, memahaminya, dan mengamalkannya, niscaya dia bakal mendapatkan kemuliaan di bumi dan keselamatan di akhirat. Di antara nama Allah yang agung adalah Al-Kariim dan Al-Akram, dua nama yang menunjukkan keluasan karunia, kemuliaan zat, dan kesempurnaan sifat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Dalam tulisan ini, kita bakal membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta akibat dari penetapan kedua nama tersebut bagi seorang hamba.

Dalil nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram

Nama Allah “Al-Kariim” disebutkan sebanyak tiga kali, ialah dalam firman Allah Ta‘ālā,

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم

“Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya; tidak ada sesembahan yang berkuasa disembah selain Dia, Rabb ‘arsy Yang Mahamulia.”  (QS. al-Mu’minūn: 116) bagi yang membaca al-kariimu (rafa’), sehingga dia merupakan sifat bagi Rabb. [1]

Dan firman-Nya,

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia berterima kasih untuk dirinya sendiri. Dan peralatan siapa kufur, maka sungguh Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.” (QS. an-Naml: 40)

Dan firman-Nya Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Mahamulia?” (QS. al-Infiṭār: 6)

Adapun nama Al-Akram, maka disebutkan dalam firman Allah Ta‘ālā,

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

“Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Mahamulia.” (QS. al-‘Alaq: 3) [2]

Kandungan makna nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram

Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dulu makna kata Al-Kariim dan Al-Akram secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.

Makna bahasa dari Al-Kariim dan Al-Akram

Kata al-kariim merupakan ṣifah musyabbahah dengan wazan fa‘īl, berasal dari kata (karuma–yakrumu), sedangkan al-akram adalah corak tafdhīl (perbandingan paling), dan bukan mubālaghah (penegasan berlebih). [3]

Tentang makna kata, Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,

(كرم) الْكَافُ وَالرَّاءُ وَالْمِيمُ أَصْلٌ صَحِيحٌ لَهُ بَابَانِ: أَحَدُهُمَا شَرَفٌ فِي الشَّيْءِ فِي نَفْسِهِ أَوْ شَرَفٌ فِي خُلُقٍ مِنَ الْأَخْلَاقِ. … وَالْأَصْلُ الْآخَرُ الْكَرْمُ، وَهِيَ الْقِلَادَةُ

“Huruf kaf, ra, dan mim merupakan satu akar kata yang sahih, yang mempunyai dua makna pokok:

(1) Kemuliaan pada sesuatu itu sendiri, alias kemuliaan dalam salah satu akhlak. …
(2) Adapun makna asal lainnya dari al-karm adalah kalung (perhiasan).” [4]

Al-Fayyumiy rahimahullah menyebutkan,

(ك ر م) : كَرُمَ الشَّيْءُ كَرَمًا نَفُسَ وَعَزَّ فَهُوَ كَرِيمٌ

“Sesuatu disebut karuma andaikan dia berbobot tinggi dan mulia. Pelakunya disebut kariim.” [5]

Makna Al-Kariim dan Al-Akram dalam konteks Allah

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,

وَقَوْلُهُ: {وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ ‌رَبِّي ‌غَنِيٌّ ‌كَرِيمٌ} أَيْ: هُوَ غَنِيٌّ عَنِ الْعِبَادِ وَعِبَادَتِهِمْ، {كَرِيمٌ} أَيْ: كَرِيمٌ فِي نَفْسِهِ، وَإِنْ لَمْ يَعْبُدْهُ أَحَدٌ، فَإِنَّ عَظَمَتَهُ لَيْسَتْ مُفْتَقِرَةً إِلَى أَحَدٍ

“Maksud firman-Nya (yang artinya), ‘Dan peralatan siapa kufur, maka sungguh Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia’, ialah Allah Mahakaya dari seluruh hamba dan dari ibadah mereka. Dan makna ‘Karīm’ adalah: Dia Mahamulia pada Zat-Nya sendiri, sekalipun tidak ada seorang pun yang menyembah-Nya, lantaran keagungan-Nya sama sekali tidak berjuntai kepada siapa pun.” [6]

Di tempat yang lain, dalam penafsiran firman Allah Ta‘ālā,

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

beliau berkata,

الْمَعْنَى فِي هَذِهِ الْآيَةِ: مَا غَرَّكَ يَا ابْنَ آدَمَ ‌بِرَبِّكَ ‌الْكَرِيمِ-أَيِ: الْعَظِيمِ

“Makna ayat ini adalah, ‘Wahai anak Adam, apa yang telah memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Mahamulia?’, yakni: Yang Mahaagung.” [7]

Syekh ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī rahimahullāh ketika menjelaskan firman Allah Ta‘ālā di surah al-’Alaq ayat ketiga, beliau berkata,

ثم قال: {اقْرَأْ وَرَبُّكَ ‌الأكْرَمُ} أي: كثير الصفات واسعها، كثير الكرم والإحسان، واسع الجود، الذي من كرمه أن علم بالعلم

“Kemudian Allah berfirman (yang artinya), ‘Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Mahamulia’, ialah Rabb yang mempunyai banyak sifat dan luas sifat-sifat-Nya, banyak karunia dan kebaikan-Nya, luas kemurahan-Nya; dan termasuk corak kemurahan-Nya adalah Dia mengajarkan ilmu.” [8]

Masih dalam penjelasan Syekh as-Sa‘dī, beliau berbicara tentang makna nama-nama Allah yang serupa,

الرحمن، الرحيم، البر، ‌الكريم، الجواد، الرؤوف، الوهاب. هذه الأسماء تتقارب معانيها، وتدل كلها على اتصاف الرب بالرحمة، والبر، والجود، والكرم، وعلى سعة رحمته ومواهبه، التي عم بها جميع الوجود، بحسب ما تقتضيه حكمته، وخص المؤمنين منها بالنصيب الأوفر، والحظ الأكمل 

“Nama-nama Allah: Ar-Raḥmaan, Ar-Raḥiim, Al-Barr, Al-Kariim, Al-Jawaad, Ar-Ra’uuf, Al-Wahhaab; semuanya saling berdekatan maknanya. Seluruhnya menunjukkan bahwa Rabb mempunyai sifat rahmat, kebaikan, kemurahan, dan kedermawanan, serta keluasan rahmat dan pemberian-Nya yang meliputi seluruh makhluk sesuai dengan hikmah-Nya. Dan Allah mengkhususkan orang-orang beragama dengan bagian yang paling banyak dan bagian yang paling sempurna. … ” [9]

Syekh Abdurrazzaaq bin Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengatakan tentang makna lafaz “الكرم”: “Lafaz ini merupakan lafaz yang mencakup seluruh kebaikan dan pujian, bukan hanya pemberian biasa, namun pemberian dengan kesempurnaan maknanya.” [10]

Konsekuensi dari nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram bagi hamba

Penetapan nama Al-Kariim dan Al-Akram bagi Allah Ta’ala mempunyai banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:

Beriman bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk nama-nama Allah

Seorang hamba hendaknya mengimani bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk dalam nama-nama Allah, dan menetapkan makna-makna yang terkandung dalam nama-nama tersebut; sebagaimana telah berlalu dalil penetapnnya dari Al-Quran.

Mendorong hamba untuk memperbanyak angan lantaran Rabb-nya Maha Pemurah

Di antara makna Al-Kariim adalah Zat yang malu menolak permintaan hamba-Nya ketika hamba tersebut bermohon dan memohon kepada-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ,

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sesungguhnya Rabb kalian Mahapemalu lagi Mahamulia. Dia merasa malu kepada hamba-Nya andaikan dia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya (untuk berdoa), lampau Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.” (HR. Abu Dāwud no. 1488 dan selainnya; disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)

Keyakinan terhadap keluasan pahala dan pembebasan sebagai buah kemurahan Allah

Di antara corak kemurahan Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebagaimana disebutkan dalam sabda qudsi,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan pahala kebaikan dan keburukan, kemudian Dia menjelaskannya. Barang siapa beriktikad melakukan kebaikan namun tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika dia beriktikad lampau melakukannya, Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, apalagi hingga kelipatan yang banyak. Dan peralatan siapa beriktikad melakukan keburukan lampau tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu keburukan.” (HR. Bukhari no. 6491)

Dalam riwayat Muslim ditambahkan,

وَمَحَاهَا اللَّهُ، وَلَا يَهْلِكُ عَلَى اللَّهِ إِلَّا هَالِكٌ

“Dan Allah menghapusnya. Tidaklah lenyap di sisi Allah selain orang yang betul-betul binasa.” (HR. Muslim no. 131)

Kesadaran bahwa takwa merupakan karena kemuliaan sejati di sisi Allah

Sebab utama untuk memperoleh kemuliaan Allah yang Mahamulia adalah ketakwaan kepada-Nya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Allah Ta‘ālā berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. al-Ḥujurāt: 13) [11]

Dalam sabda Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu disebutkan, ketika Nabi ﷺ ditanya, “Siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa.” (Muttafaqun ‘alaih)

Kemuliaan yang asasi adalah kemuliaan lantaran ketaatan dan takwa, yang kekal hingga alambaka dan mengantarkan pelakunya ke Dār al-Karāmah (negeri kemuliaan). Adapun kemuliaan bumi yang dimiliki oleh orang-orang fajir dan kafir hanyalah sementara dan bakal berubah menjadi kehinaan di hari kiamat. [12]

Semoga pemahaman yang betul tentang kedua nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram semakin menguatkan keagamaan kita kepada-Nya, menumbuhkan kepercayaan bakal keluasan karunia dan kemurahan-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak angan dan kebaikan saleh, serta menanamkan kesadaran bahwa kemuliaan sejati hanya diraih dengan ketaatan dan takwa. Semoga pula pemahaman ini menjauhkan kita dari sikap sombong, putus asa, dan ketergantungan kepada selain Allah. Aamiin.

***

Rumdin PPIA Sragen, 11 Rajab 1447

Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab

Artikel Kincai Media

Referensi utama:

  • Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.
  • Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.
  • Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.
  • An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.

Catatan kaki:

[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 215. Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, 12: 157.

[2] An-Nahj al-Asma, hal. 262.

[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 587 dan 597.

[4] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, hal. 806.

[5] Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, hal. 541.

[6] Tafsīr Ibnu Katsīr, 6: 193.

[7] Ibid, 8: 342.

[8] Taisir Al-Kariim Ar-Rahman, hal. 930.

[9] Ibid, hal. 946.

[10] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 216. Kemudian, beliau menyebut beberapa makna tersebut dengan pembahasan yang sangat bagus. Lihat hal. 216-218 dari kitab beliau tersebut. Lihat juga An-Nahj al-Asma, hal. 263-264.

[11] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 218.

[12] An-Nahj al-Asma, hal. 271.

Selengkapnya