Mengapresiasi Ikhtiar Sesama: Akhlak Yang Terlupa

Jan 20, 2026 11:00 AM - 3 bulan yang lalu 98635

Dalam perjalanan hidup ini, kita melangkah berdampingan dengan manusia yang Allah ciptakan dengan takaran yang berbeda-beda. Ada yang diberi tenaga kuat, ada yang fisiknya lemah. Ada yang luas ilmunya, ada yang tetap merangkak dalam belajar. Ada yang lapang waktunya, ada pula yang terbatas oleh amanah family dan pekerjaan. Semua perbedaan itu adalah sunnatullah, tanda kebijaksanaan Allah dalam membagi keahlian hamba-hamba-Nya.

Namun, salah satu kesalahan yang sering muncul di lingkungan masyarakat, apalagi dalam lingkungan pendidikan dan dakwah, adalah kebiasaan menyalahkan alias meremehkan orang yang sudah berupaya sekuat tenaga, hanya lantaran hasil yang dicapai tidak sesuai angan dan ekspektasi.

Terkadang hanya lantaran hasilnya tak seindah angan tesebut, kita lupa bahwa di kembali upaya itu ada hati yang berjuang, ada niat yang tulus, dan ada pemisah keahlian yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya.

Padahal, Allah Ta’ala sendiri telah menegur sikap seperti itu melalui firman-Nya,

مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ

“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang melakukan baik.” (QS. At-Taubah: 91)

Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa selama seseorang telah beriktikad baik dan berupaya semampunya, maka tidak layak bagi siapa pun untuk mencela alias merendahkannya. Karena di sisi Allah, yang dinilai bukanlah besar kecilnya hasil, tetapi ikhlasnya niat dan jujurnya usaha.

Allah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasil

Dalam pandangan manusia, terkadang hasil terlihat lebih krusial daripada proses. Kita terbiasa menilai dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang diperjuangkan. Namun di sisi Allah, ukuran kemuliaan sebuah kebaikan tidak terletak pada besarnya hasil, melainkan pada ikhlasnya niat dan kegigihan dalam usaha.

Seseorang mungkin hanya bisa memberi sedikit, tetapi hatinya lebih tulus daripada orang yang memberi banyak.

Ada yang mau membantu lebih jauh, tetapi tubuhnya lemah, waktunya terbatas, alias keluarganya memerlukan perhatian.

Ada yang tampak tidak banyak berkontribusi, padahal dia tengah berjuang dengan kondisi yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Surah At-Taubah ayat 91 turun tentang orang-orang yang mau berjihad, namun mempunyai keterbatasan fisik, kesehatan, alias kondisi lain yang menghalangi. Meski mereka tidak bisa datang di medan perang, Allah menyebut mereka melakukan baik lantaran niat mereka kuat, tekad mereka tulus, dan mereka telah melakukan yang mereka mampu.

Ada orang yang tidak datang dalam kegiatan bukan lantaran malas, tetapi lantaran sakit alias beban berat yang dia pikul diam-diam.

Ada yang tidak bisa memberi banyak, bukan lantaran tidak peduli, tetapi lantaran ekonomi yang sempit.

Ada yang tampak kurang bergerak, padahal dia sedang berjihad mengurus keluarga, menjaga amanah, alias menyusun waktu yang sangat terbatas.

Karena itu, mencela seseorang tanpa memahami kondisi adalah corak ketidakadilan. Sementara menghargai usahanya, meski kecil, adalah bagian dari adab mulia yang dicintai Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa dan kekayaan kalian, tetapi memandang hati dan kebaikan kalian.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidaklah berterima kasih kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970 dan Ahmad no. 7926 dengan sanad sahih, lihat As-Shahih no. 417)

Baca juga: Akhlak yang Mulia, Tanda Kesempurnaan Islam Seorang Muslim

Mengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hati

Menghargai upaya orang lain adalah adab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak pernah merendahkan keahlian sahabat, apalagi ketika mereka punya kekurangan. Sebaliknya, beliau memuji niat baik mereka dan memberikan semangat.

Dalam sebuah perjalanan perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandang para sahabat sudah melangkah jauh, sementara Abu Dzar tertinggal. Beliau tidak mencela ketertinggalan itu, justru berfirman dalam corak apresiasi,

رَحِمَ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ

“Semoga Allah merahmati Abu Dzar! Ia melangkah sendirian, dia meninggal sendirian, dan dia bakal dibangkitkan sendirian.” (HR. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi dalam Takhrij Siyar A’lam al-Nubala’, 2: 56)

Sikap ini sangat krusial di bumi modern:

Dalam organisasi dakwah, apresiasi dapat memperkuat ukhuwah dan meningkatkan semangat.

Dalam keluarga, penghargaan membikin personil merasa dihargai dan dicintai.

Dalam pekerjaan, pengakuan terhadap upaya mini sekalipun bisa meningkatkan loyalitas dan kualitas kerja.

Sebaliknya, kritik yang tidak pada tempatnya, apalagi meremehkan, tentu dapat mematikan semangat, memicu perpecahan, dan membikin seseorang enggan berupaya kembali.

Membedakan antara pertimbangan dan menghakimi

Perlu dipahami bahwa menghargai upaya bukan berfaedah menutup pintu evaluasi. Dakwah, pekerjaan, dan kegiatan apa pun tetap memerlukan perbaikan. Namun perbedaannya adalah:

Evaluasi berfokus pada proses dan solusi, disampaikan dengan langkah yang lembut dan adil. Sedangkan menghakimi dan menyalahkan berfokus pada individu, disampaikan dengan emosi alias merendahkan.

Allah tidak menyukai orang yang mencari-cari kesalahan dalam diri orang yang sudah berupaya dengan baik. Justru Allah memerintahkan kita untuk memandang kebaikan yang telah dilakukan sebagai corak penghormatan terhadap jerih payah mereka, sebagaimana norma dalam Al-Quran,

مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ

“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang melakukan baik.” (QS. At-Taubah: 91)

Memberi teladan untuk perbaikan

Dalam Islam, memperbaiki suatu pekerjaan bukan hanya dengan memberi arahan, tetapi dengan memberikan contoh nyata tentang gimana pekerjaan itu semestinya dilakukan. Ketika seseorang memandang teladan langsung, langkah bekerja yang rapi, sikap yang amanah, alias pelayanan yang penuh adab, maka dia lebih mudah memahami dan meniru.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri mencontohkan perihal ini. Beliau bukan hanya memerintahkan para sahabat untuk melakukan ihsan, tetapi memperlihatkan ihsan itu dalam setiap amal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah ibadah (pekerjaan), lampau menyempurnakannya.” (HR. Abu Ya’la dan At-Thabari)

Oleh lantaran itu, jika kita mau pekerjaan dalam keluarga, lembaga, alias organisasi menjadi lebih baik, mulailah dengan memperlihatkan contoh nyata. Tunjukkan gimana menyelesaikan tugas dengan teliti, gimana menjaga amanah waktu, gimana bekerja tanpa mengeluh, alias gimana melayani dengan hati.

Teladan seperti ini bukan hanya mengajarkan, tetapi juga menggerakkan.

Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita untuk saling menghargai, saling meneladani, dan menjadikan setiap upaya sebagai jalan kebaikan yang diberkahi.

Baca juga: Hakikat Tawadu ialah Memandang Orang Lain Selalu Lebih Baik Dari Kita

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Kincai Media

Referensi:

Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Selengkapnya