Kenali Tanda-tanda Anak Alami Kekerasan, Tak Hanya Dari Fisik

May 06, 2026 04:50 PM - 5 jam yang lalu 279

Jakarta -

Tanda-tanda anak alami kekerasan tidak selalu mudah terlihat, Bunda. Kasus kekerasan pada anak juga banyak baru diketahui ketika sudah berjalan cukup lama.

Child abuse alias tindak kekerasan pada anak sendiri tetap menjadi persoalan yang kerap terjadi. Banyak kasus tidak langsung dilaporkan sehingga penanganannya pun sering terlambat.

Mengutip dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, kekerasan pada anak mencakup perilaku penganiayaan, penyiksaan, hingga tindakan kekerasan lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Pemerintah sendiri telah menetapkan dasar norma melalui Undang-Undang Perlindungan Anak, ialah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Hal ini membikin situasi menjadi cukup memprihatinkan mengingat anak adalah generasi penerus bangsa. Namun, dalam kenyataannya tetap ada anak yang belum mendapatkan perlindungan dengan baik.

Lalu, apa saja tanda-tanda anak mengalami kekerasan? Berikut ini selengkapnya yang perlu Bunda ketahui.

Tanda-tanda anak alami kekerasan

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa kekerasan pada anak adalah semua corak perlakuan menyakitkan, baik secara bentuk maupun emosional. Kondisi ini dapat berakibat pada kesehatan hingga tumbuh kembang mereka.

Selain itu, IDAI dan Kemenkes RI juga membagikan beberapa tanda yang menunjukkan anak mengalami kekerasan. Simak penjelasannya:

1. Memar pada tubuh

Salah satu tanda yang biasa terlihat pada anak adalah munculnya memar di tubuh. Memar ini bisa saja terjadi lantaran benturan, tapi letaknya perlu diperhatikan lebih lanjut.

Pada kasus kekerasan, memar kerap ditemukan di bagian tubuh tertentu seperti tulang kering, lengan bawah, dagu, hingga alis. Bentuk kekerasan pada anak bisa beragam, mulai dari dipukul, dibenturkan, hingga tindakan lain yang melukai.

Selain itu, warna memar juga bisa berubah seiring waktu, dari merah alias biru menjadi kehijauan alias kecoklatan saat mulai sembuh.

2. Anak merasa ketakutan

Tanda lainnya yang perlu diperhatikan adalah ketika Si Kecil sering merasa takut tanpa argumen yang jelas. Kondisi ini bisa terjadi akibat pengalaman yang membikin mereka tidak nyaman.

Anak yang mengalami kekerasan juga menjadi lebih mudah cemas, enggan bersosialisasi, alias terlihat murung. Dalam beberapa kondisi, mereka apalagi bisa mengalami mimpi jelek hingga stres berkepanjangan.

3. Nyeri pada perut

Bunda, anak yang mengalami kekerasan bisa menunjukkan keluhan fisik, salah satunya nyeri pada perut yang muncul berulang tanpa karena yang jelas.

Selain itu, perubahan seperti kembali mengompol juga bisa terjadi, terutama pada anak yang sebelumnya sudah melewati tahap toilet training. Pada beberapa kasus, anak juga bisa mengeluh nyeri alias ketidaknyamanan di area perangkat kelamin.

4. Cenderung melarikan diri

Kalau Bunda memandang anak selalu mau menjauh dari rumah alias lingkungannya, ada kemungkinan mereka mengalami kekerasan. Hal ini terjadi lantaran mereka merasa tidak kondusif di tempat yang semestinya menjadi tempat yang nyaman.

Perubahan perilaku seperti ini sebaiknya kudu diperhatikan, apalagi jika terjadi terus-menerus. Karena bisa menjadi tanda bahwa anak sedang berupaya menghindari sesuatu yang membuatnya tertekan.

5. Perubahan rasa percaya diri

Bunda, tanda lain yang perlu diwaspadai adalah ketika anak tiba-tiba terlihat berubah dalam rasa percaya dirinya. Perubahan ini bisa terlihat dari sikap yang lebih tertutup alias mudah ragu.

Kondisi ini bisa berangkaian dengan kekerasan psikis yang dialami anak. Tekanan emosional membikin mereka merasa tidak kondusif untuk mengekspresikan dirinya.

Akibatnya, anak menjadi lebih pendiam alias tidak berani mencoba hal-hal baru seperti sebelumnya.

6. Sakit kepala tanpa penyebab jelas

Tanda lainnya yang kerap luput dari perhatian adalah ketika anak sering mengeluh sakit kepala tanpa karena medis yang jelas. Kondisi tersebut bisa berangkaian dengan tekanan psikologis yang dialami anak.

Dampak buruknya, mereka bisa merasa tidak nyaman terus-menerus meski hasil pemeriksaan medis tidak menunjukkan masalah tertentu.

7. Penurunan prestasi dan perubahan kebiasaan di sekolah

Tanda yang kudu diperhatikan adalah ketika anak mulai mengalami penurunan prestasi di sekolah. Kondisi ini dapat terlihat dari nilai yang menurun alias perubahan sikap mereka saat belajar.

Selain itu, anak juga bisa menjadi lebih sering tidakhadir dari sekolah. Dalam beberapa kondisi, mereka apalagi menunjukkan perilaku seperti mencari makanan alias duit dengan langkah yang tidak biasa.

Tidak hanya itu, kondisi bentuk anak juga bisa ikut terpengaruh. Anak mungkin terlihat kurang terawat, seperti jarang mandi, busana kotor, alias aroma yang tidak sedap.

8. Terdorong melakukan kekerasan

Berikutnya, karakter yang juga perlu diwaspadai adalah saat anak mulai menunjukkan perilaku yang mengarah pada kekerasan. Sikap ini muncul dalam corak mudah marah terhadap orang lain.

Kondisi ini bisa terjadi lantaran anak meniru dari lingkungan yang kurang baik. Tanpa pengarahan tepat dari orang tua, perilaku tersebut bisa terbawa dalam keseharian mereka.

Bentuk kekerasan pada anak

Ilustrasi Kekerasan pada AnakIlustrasi Kekerasan pada Anak/Foto: iStock

Selain tanda yang perlu diperhatikan, terdapat pula corak kekerasan pada anak yang dilansir dari Kemenkes. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Kekerasan fisik

Kekerasan bentuk adalah tindakan yang melukai tubuh anak. Contohnya seperti penyiksaan, pemukulan, tamparan, tendangan, alias injakan yang bisa menyebabkan luka apalagi kematian.

2. Kekerasan psikis

Kekerasan psikis adalah perlakuan yang menyakiti emosi anak. Misalnya omelan, kata-kata kasar, alias memperlihatkan video, gambar, maupun kitab bermuatan pornografi kepada anak.

3. Kekerasan seksual

Kekerasan seksual adalah tindakan yang melibatkan anak dalam perihal seksual, baik lewat kata-kata maupun sentuhan. Termasuk juga hubungan seksual antara anak dan orang yang lebih dewasa.

4. Kekerasan sosial

Kekerasan sosial terjadi ketika anak dieksploitasi alias tidak dipenuhi kebutuhannya. Bentuknya bisa berupa penelantaran alias pemanfaatan anak untuk kepentingan tertentu.

5. Kekerasan tradisi

Kekerasan tradisi adalah tindakan yang dilakukan lantaran kebiasaan tertentu yang merugikan anak. Contohnya seperti menikah paksa di usia muda, pertunangan anak, alias praktik lain yang tidak sesuai dengan kewenangan anak.

Pencegahan kekerasan pada anak

Pencegahan kekerasan pada anak sebaiknya dimulai sejak dini, apalagi sejak Si Kecil tetap dalam kandungan. American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan orang tua untuk menghindari balasan bentuk seperti memukul dalam mendisiplinkan anak.

Bukan tanpa alasan, perihal ini lantaran dapat memicu perilaku yang garang di kemudian hari. Selain itu, tindakan kekerasan juga bisa meningkatkan akibat anak terlibat dalam perilaku yang berisiko saat dewasa.

Bunda perlu memahami bahwa setiap anak mempunyai karakter yang berbeda-beda. Ketika anak menunjukkan kesulitan dalam suatu bidang, orang tua sebaiknya tidak langsung menghakimi perihal tersebut.

Lebih lanjut, anak juga perlu diajarkan menetapkan batas dalam berinteraksi dengan orang lain. Bunda bisa menjelaskan bahwa tidak ada orang yang berkuasa menyentuh alias membikin mereka merasa tidak nyaman. Anak perlu tahu bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri.

Sebagai orang tua, Bunda bisa memberikan pemahaman agar anak lebih peka terhadap sekitarnya. Ajarkan mereka percaya pada instingnya dan berani mencari support ketika merasa tidak aman.

Itulah langkah mengenali tanda-tanda anak alami kekerasan, yang tidak hanya terlihat dari bentuk saja. Semoga informasinya bisa membantu, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Selengkapnya