Kincai Media , JAKARTA -- Perjalanan dakwah Nabi Luth penuh dengan tantangan. Tidak saja lantaran kaumnya mengingkari risalah yang dibawanya, tetapi lebih dari itu, mereka menderita penyakit yang sekarang dikenal dengan istilah lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).
Boleh jadi sebagian orang tidak mengakui bahwa ini penyakit, tetapi secara fitrah manusia, tidak bisa dipungkiri bahwa LGBT telah menjadi kejadian yang sering diperdebatkan. Bahwa di sana-sini kita mendengar pembelaan terhadap mereka untuk diakui eksistentesinya, tetapi munculnya kekhawatiran atas merajalelanya perilaku tersebut di tengah masyarakat pun juga tak terhindarkan.
Sebab, bagimanapun sunnatullah yang Allah tetapkan di alam ini mengharuskan manusia menikah dengan musuh jenis agar terjadi keberlanjutan hidup. Tetapi dengan munculnya kejadian LGBT bisa dipastikan tujuan mulia tersebut bakal tersendat.
Bukankah di antara tujuan syariah (maqashid asy-syari'ah) adalah menjaga jiwa (hifzhun nafs) dan menjaga nilai diri (hifzhul’irdh)?
Fenomena perilaku LGBT tentu tidak sejalan dengan kedua tujuan tersebut. Karena itu di dalam Alquran, Allah SWT menyebarkan kisah perjuangan dakwah Nabi Luth dalam banyak surah: al-Ana’am, al-A’raf, Hud, al Hijr, al-Anbiya, al-Hajj, asy-Syuara, an-Naml, al-Ankabut, as-Shafat, Shad, Qaf, al-Qamar, at-Tahrim, dan sebagainya.
Ini tidak lain untuk memberikan aba-aba bahwa bagi Allah itu sangat bertentangan dengan tujuan utama diciptakannya manusia. Silakan seseorang memihak LGBT atas nama kewenangan asasi manusia alias dengan langkah mengampanyekannya dalam beragam penampilan yang menggoda dan menggiurkan, tetapi perihal itu tidak bisa didukung jika mengarah kepada penghancuran manusia.
Sebab, siapapun yang mempunyai logika sehat tidak bakal pernah bisa menerimanya.
Allah menyebut beberapa istilah negatif yang dinisbahkan kepada kaum Nabi Luth yang tentu ini juga bertindak bagi kaum LGBT.
Di antaranya sebagai perbuatan biadab yang belum pernah dilakukan umat manusia sebelumnya.
وَلُوۡطًا اِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهٖۤ اَتَاۡتُوۡنَ الۡفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمۡ بِهَا مِنۡ اَحَدٍ مِّنَ الۡعٰلَمِيۡنَ
"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berbicara kepada kaumnya, "Mengapa Anda melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum Anda (di bumi ini)" (QS al-A’raf [7]: 80).
Ayat ini menggambarkan bahwa Nabi Luth menggunakan redaksi istifham inkarii (pertanyaan yang berarti pengingkaran). Bahwa perbuatan tersebut tidak saja menyimpang dari hukum yang Allah turunkan, tetapi juga sangat tidak disukai oleh Allah SWT.
Sampai-sampai dikatakan bahwa itu bukan hanya biadab dan menjijikkan (fahisyah), tetapi juga belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia.
Pernyataan ini ditegaskan dalam surah al-A'raf yang tema pokoknya membujuk kepada kejelasan sikap antara alim dan maksiat. Di sini seakan dikatakan bahwa pribadi yang baik adalah yang berperilaku jelas antara sebagai laki-laki alias perempuan.
Sungguh suatu penyimpangan jika ada laki-laki berperilaku seperti wanita alias sebaliknya.
Penegasan di atas diulang lagi dengan redaksi yang mirip dalam surah al-Ankabut ayat ke-28, yang konsentrasi pembahasannya tentang fitnah. Suatu isyarat yang sangat jelas bahwa perbuatan kaum Nabi Luth alias LGBT adalah tuduhan yang merusak manusia dan kemanusiaan.
Karena itu, dalam ayat lain mereka disebut sebagai kaum yang berlebihan dalam melakukan keburukan (musrifuun).
اِنَّكُمۡ لَـتَاۡتُوۡنَ الرِّجَالَ شَهۡوَةً مِّنۡ دُوۡنِ النِّسَآءِ ؕ بَلۡ اَنۡـتُمۡ قَوۡمٌ مُّسۡرِفُوۡنَ
"Sungguh, Anda telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama laki-laki bukan kepada perempuan. Kamu betul-betul kaum yang melampaui batas'" (QS al-Araf [7]: 81).
Bahkan, Nabi Luth mengatakan kepada mereka, “Kalian adalah kaum yang asing tidak seperti manusia pada umumnya." Demikian diabadikan dalam surah al-Hijr ayat ke-62.
sumber : Motivasi Alquran oleh Ustaz Dr Amir Faishol Fath
English (US) ·
Indonesian (ID) ·