Isra dan Mi’raj dalam Hadis Nabi Muhammad BincangSyariah.com- Isra dan Mi‘raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam perjalanan kenabian Nabi Muhammad Saw. Peristiwa ini bukan sekadar kisah mukjizat, tetapi juga menjadi titik krusial dalam pembentukan spiritual umat Islam.
Al-Qur’an memang hanya mengisyaratkan Isra secara singkat dalam Surah al-Isrā’ ayat 1, namun perincian peristiwanya justru banyak terekam dalam hadis-hadis Nabi Saw.
Dalam banyak riwayat sabda sahih, Isra-Mi‘raj diceritakan terjadi pada malam hari, ketika Nabi Saw mengalami perjalanan luar biasa dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, lampau dilanjutkan naik ke langit hingga Sidratul Muntahā.
Dalam kitab berjudul Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw karya Quraish Shihab dikisahkan perjalanan ini terjadi pada fase yang berat dalam kehidupan Nabi Saw, ialah setelah wafatnya Khadijah ra. dan Abu Thalib, dua sosok yang selama ini menjadi penopang dakwah beliau. Karena itu, Isra-Mi‘raj sering dipahami oleh para ustadz sebagai corak penghiburan dan penguatan ketaatan dari Allah Swt kepada Rasul-Nya.
Salah satu sabda paling komplit tentang Isra-Mi‘raj diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Malik bin Ṣa’ṣa‘ah. Dalam sabda tersebut diceritakan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw, membelah dada beliau, membersihkan hatinya dengan air zamzam, lampau mengisinya dengan ketaatan dan hikmah. Adegan ini menunjukkan bahwa Isra-Mi‘raj bukan perjalanan biasa, melainkan peristiwa spiritual yang dipersiapkan secara unik oleh Allah Swt.
Setelah itu, Nabi Saw dibawa menaiki Buraq, kendaraan yang digambarkan lebih sigap dari hewan biasa. Dalam waktu singkat, beliau sampai di Masjidil Aqsha. Di tempat suci ini, Nabi Saw melaksanakan shalat dan menjadi pemimpin bagi para nabi terdahulu.
Hadis ini sering dibaca sebagai simbol penting: risalah Nabi Muhammad Saw merupakan kelanjutan dan penyempurna dari aliran para nabi sebelumnya. Kepemimpinan beliau sebagai pemimpin para nabi juga menegaskan posisi sentral Nabi Muhammad Saw dalam sejarah kenabian.
Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan Mi‘raj, ialah naiknya Nabi Saw menembus langit demi langit. Dalam hadis-hadis sahih disebutkan bahwa di setiap lapisan langit, Nabi Saw berjumpa dengan nabi-nabi terdahulu, seperti Nabi Adam, Nabi Isa, Nabi Yahya, Nabi Yusuf, Nabi Musa, hingga Nabi Ibrahim ‘alaihimussalam.
Pertemuan ini bukan sekadar kisah simbolik, tetapi juga menggambarkan kesinambungan misi tauhid dari generasi ke generasi.
Salah satu bagian paling menarik dalam sabda Mi‘raj adalah perbincangan Nabi Muhammad Saw dengan Nabi Musa as. mengenai perintah shalat. Seperti yang dijelaskan dalam riwayat Imam Muslim Kitab al-Īmān sebagai berikut:
فُرِضَتْ عَلَيَّ الصَّلَوَاتُ خَمْسِينَ صَلَاةً، فَرَجَعْتُ بِذَلِكَ حَتَّى مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى، فَقَالَ: مَاذَا فُرِضَ عَلَى أُمَّتِكَ؟ قُلْتُ: فُرِضَ عَلَيْهِمْ خَمْسُونَ صَلَاةً، قَالَ: فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ
Artinya; Diwajibkan atasku salat lima puluh kali, lampau saya kembali hingga melewati Musa. Ia berkata: ‘Apa yang diwajibkan atas umatmu?’ Aku menjawab: ‘Diwajibkan atas mereka lima puluh salat.’ Ia berkata: ‘Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, lantaran umatmu tidak bakal mampu.
Dari penggalan sabda ini diceritakan bahwa pada awalnya Allah Swt mewajibkan shalat sebanyak lima puluh waktu sehari semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi Muhammad Saw beberapa kali kembali memohon keringanan, hingga akhirnya shalat ditetapkan menjadi lima waktu dengan pahala setara lima puluh waktu.
Dari sini terlihat bahwa shalat mempunyai kedudukan spesial dalam Islam: dia merupakan satu-satunya ibadah yang diwajibkan langsung di langit, tanpa perantara.
Hadis-hadis Isra-Mi‘raj juga merekam respons beragam dari masyarakat Quraisy. Dijelaskan dalam kitab al-Dardīr ala Qiṣṣah al-Mi’rāj Ketika Nabi Saw menceritakan peristiwa ini, sebagian orang justru mengejek dan menganggapnya tidak masuk akal. Namun Abu Bakar ra. langsung membenarkan Nabi Saw tanpa ragu.
Ia berkata, “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu benar.” Sikap inilah yang membikin Abu Bakar mendapat gelar ash-Shiddiq. Dari kisah ini, umat Islam belajar bahwa ketaatan sejati tidak selalu berjuntai pada logika logis semata, tetapi pada kepercayaan penuh terhadap kebenaran wahyu.
Para ustadz memang berbeda pendapat mengenai apakah Isra-Mi‘raj terjadi secara jasmani dan ruhani alias hanya secara ruhani. Namun dalam literatur Islam, kebanyakan ustadz Ahlussunnah beranggapan bahwa peristiwa ini terjadi secara jasmani dan ruhani sekaligus, sebagaimana ditunjukkan oleh zahir hadis-hadis sahih. Perbedaan pendapat ini justru memperlihatkan keluasan tradisi keilmuan Islam dan sikap saling menghargai dalam ranah ijtihad.
Lebih dari sekadar kisah sejarah, hadis-hadis Isra-Mi‘raj mengajarkan pesan yang sangat relevan bagi kehidupan umat Islam hari ini. Di tengah tekanan dan kesulitan, Allah Swt menunjukkan bahwa pertolongan-Nya selalu dekat.
Shalat yang diwajibkan dalam peristiwa Mi‘raj bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya. Karena itu, shalat sering disebut sebagai mi‘raj orang beriman.
Dengan merenungi peristiwa Isra-Mi‘raj sebagaimana terekam dalam sabda Nabi Saw, umat Islam diajak untuk meneguhkan kembali makna iman, kesabaran, dan kedekatan kepada Allah Swt.
Isra-Mi‘raj bukan hanya cerita tentang perjalanan Nabi ke langit, tetapi undangan spiritual agar manusia tidak terjebak pada urusan bumi semata, melainkan terus menautkan hidupnya kepada langit nilai dan ketakwaan.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·