Hukum Puasa 27 Rajab, Bolehkah?Kincai Media – Bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan haram (الأشهر الحرم) yang dimuliakan dalam Islam. Keempat bulan tersebut adalah Dzulqa‘dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak kebaikan kebaikan, termasuk ibadah puasa sunnah. Lantas, gimana norma puasa pada tanggal 27 Rajab, yang dikenal sebagai momentum Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW? Apakah boleh dan dianjurkan?
Keutamaan Puasa di Bulan Haram
Rasulullah SAW memberikan gambaran umum tentang keistimewaan puasa di bulan-bulan haram melalui sabdanya:
صَوْمُ يَوْمٍ مِنْ شَهْرٍ حَرَامٍ أَفْضَلُ مِنْ صَوْمِ ثَلَاثِينَ مِنْ غَيْرِهِ، وَصَوْمُ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ أَفْضَلُ مِنْ ثَلَاثِينَ مِنْ شَهْرٍ حَرَامٍ
Artinya: “Puasa satu hari di bulan haram lebih utama daripada puasa tiga puluh hari di bulan selainnya. Dan puasa satu hari di bulan Ramadan lebih utama daripada puasa tiga puluh hari di bulan haram.”
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa di bulan-bulan haram mempunyai keistimewaan yang lebih besar dibandingkan puasa sunnah di bulan-bulan biasa. Karena Rajab termasuk bulan haram, maka puasa di dalamnya—termasuk pada tanggal 27 Rajab—masuk dalam cakupan keistimewaan tersebut.
Dalam riwayat lain disebutkan:
مَنْ صَامَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ شَهْرٍ حَرَامٍ: الْخَمِيسَ وَالْجُمُعَةَ وَالسَّبْتِ، كَتَبَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ عِبَادَةَ سَبْعِمِائَةِ سَنَةٍ
Artinya: “Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan haram, ialah hari Kamis, Jumat, dan Sabtu, maka Allah Ta‘ala mencatat baginya pahala ibadah selama tujuh ratus tahun.” (HR. ath-Thabrani)
Dasar Anjuran Puasa di Bulan Rajab
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan keistimewaan puasa di bulan-bulan haram berasas sabda Nabi SAW:
مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ أَشْهُرِ اللَّهِ الْحُرُمِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ يَوْمًا
Artinya: “Barang siapa berpuasa satu hari pada bulan-bulan yang dimuliakan, maka dia bakal memperoleh pahala seperti berpuasa tiga puluh hari.” (Imam Fakhruddin ar-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, juz 16, h. 54)
Selanjutnya, Sayyid Abu Bakar Syatha’ ad-Dimyathi dalam I‘ânah ath-Thâlibîn mengutip sabda Nabi SAW yang menganjurkan puasa di bulan-bulan haram. Nabi bersabda;
صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ
Artinya: “Berpuasalah di bulan-bulan haram dan tinggalkanlah! Berpuasalah di bulan-bulan haram dan tinggalkanlah! Berpuasalah di bulan-bulan haram dan tinggalkanlah!” (HR. Abu Dawud dan lainnya)
Lalu, Bagaimana Hukum Puasa 27 Rajab?
Berdasarkan keterangan para ulama, tidak terdapat dalil shahih yang secara unik mensunnahkan puasa pada tanggal 27 Rajab lantaran peristiwa Isra Mikraj. Oleh lantaran itu, puasa 27 Rajab tidak boleh diyakini sebagai puasa sunnah unik yang mempunyai keistimewaan tersendiri.
Namun demikian, puasa pada tanggal tersebut tetap boleh dan berbobot sunnah, selama diniatkan sebagai puasa sunnah di bulan Rajab alias puasa di bulan haram, bukan sebagai ibadah unik Isra Mikraj.
Untuk itu, puasa pada tanggal 27 Rajab hukumnya boleh dan sunnah secara umum, lantaran dilakukan di bulan Rajab yang termasuk bulan haram. Dengan demikian, memperbanyak puasa sunnah di bulan Rajab adalah ibadah yang baik dan dianjurkan, selama tetap berada dalam koridor aliran hukum yang benar.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·