Hukum Menjamak Shalat Karena Sakit

Dec 26, 2025 08:00 PM - 4 bulan yang lalu 128952
tata langkah shalat bagi orang sakitmenjamak shalat

Kincai Media – Semua orang mau dirinya selalu sehat. Pada kenyataannya, orang yang terlalu capek beraktivitas alias usia yang sudah menua tidak terhindar dari penyakit, baik penyakit ringan maupun sampai yang komplikasi. Saat dalam keadaan sakit, bolehkah melakukan shalat jamak, baik plural takdim maupun plural takhir?

Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Fathul Muin menjelaskan demikian.

يجوز الجمع بالمرض تقديما وتأخيرا – على المختار – ويراعي الارفق، فإن كان يزداد مرضه – كأن كان يحم مثلا وقت الثانية قدمها بشروط جمع التقديم، أو وقت الاولى أخرها بنية الجمع في وقت الاولى.

Menjamak shalat lantaran sakit itu boleh, baik plural takdim maupun plural takhir menurut pendapat yang terbaik, dan disesuaikan konidisi yang paling memungkinkan. Bila sakit bertambah parah, misalnya demam semakin meninggi saat waktu kedua, maka sebaiknya yang dilakukan adalah plural takdim sesuai syarat yang berlaku. Atau sakitnya bertambah parah di waktu shalat pertama, maka lakukanlah plural takhir dengan niat pada waktu shalat pertama.

وضبط جمع متأخرون المرض هنا بأنه ما يشق معه فعل كل فرض في وقته، كمشقة المشي في المطر، بحيث تبتل ثيابه. وقال آخرون: لا بد من مشقة ظاهرة زيادة على ذلك، بحيث تبيح الجلوس في الفرض. وهو الاوجه.

Ulama mutaakhirin membatasi sakit yang boleh melakukan plural di sini adalah sakit yang membikin payah melakukan shalat fardu pada setiap waktu. Batasannya itu sama seperti melangkah untuk berjamaah saat turun hujan yang menyebabkan baju basah. Ulama lain beranggapan bahwa masyaqqah sakit itu kudu betul-betul tampak lebih dari itu. Ukurannya adalah sekiranya sakit tersebut menyebabkan kebolehan shalat sembari duduk.

Menurut Syekh Abu Bakar Syatha, kebolehan menjamak shalat tersebut didasarkan atas sabda Nabi saw. yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas.

جمع رسول الله صلى الله عليه وسلم بين الظهر والعصر وبين المغرب والعشاء بالمدينة من غير خوف ولا مطر قال فقيل لابن عباس ما أراد بذلك قال أراد أن لا يحرج أمته

Rasulullah saw. menjamak shalat Zuhur dan Asar, Magrib dan Isya, di Madina tanpa ada karena takut ataupun hujan. Ditanyakan pada Ibnu Abbas, “Maksud Rasul melakukan plural tersebut apa?” “Itu agar menjadi solusi bagi umatnya untuk tidak terlalu terbebani,” kata Ibnu Abbas. (HR Tirmidzi).

Selengkapnya