Kincai Media , JAKARTA -- Khalid bin Walid adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang berjulukan Saifullah (Perang Allah). Baik pada masa kafir maupun Islamnya, tokoh Quraisy itu masyhur bakal keahliannya di medan tempur.
Masuk Islamnya Khalid tidak terjadi begitu saja, tapi setelah pergulatan jiwa yang panjang. Hal itu dimulai ketika kekuatan umat Islam semakin terkonsolidasi di Madinah.
Enam tahun setelah peristiwa hijrah, Perjanjian Hudaibiyah terjadi antara Rasulullah SAW dan pemimpin Quraisy. Dalam pada itu, kedua belah pihak menyepakati masa tenteram 10 tahun lamanya.
Adanya kesepakatan Hudaibiyah memungkinkan, antara lain, orang-orang Quraisy Makkah bebas masuk dan keluar Madinah. Selama di kota itu, mereka menyasikan langsung, gimana Nabi Muhammad SAW memimpin masyarakat. Akhirnya, banyak yang menyadari bahwa kehadiran Rasulullah SAW sungguh-sungguh menebar maslahat. Tidak ada pamrih duniawi pada diri beliau.
Khalid bin Walid pun mengawasi langsung, sungguh besar akibat hijrah pada kekuatan umat Islam. Yang paling membuatnya terkesan adalah kepemimpinan Rasulullah SAW. Ia akhirnya menginsafi, Nabi SAW mengutamakan kepentingan syiar kepercayaan tauhid dan kemaslahatan umat.
Di sinilah Khalid merasa bahwa apa yang diperjuangkan Nabi Muhammad bukanlah fanatisme kesukuan alias kekayaan benda, melainkan sesuatu yang lebih luhur, ialah keagamaan pada Allah SWT. Dengan kata lain, Rasul SAW tidak sedang menyusun kekuatan di Madinah untuk, katakanlah, melampiaskan dendam pada orang-orang Makkah yang dulu telah mengusirnya.
"Lelaki itu (Nabi Muhammad SAW) betul-betul utusan Allah. Lantas, sampai kapan saya memeranginya? Demi Allah, saya bakal pergi menghadapnya dan masuk Islam!" katanya membatin pada suatu hari.
Walau dikecam banyak tokoh musyrik, Khalid bin Walid tidak peduli. Bersama Utsman bin Thalhah dan Amr bin al-Ash, dia pun menuju Madinah. Ketiganya lampau menemui Rasulullah SAW dan menyatakan dua kalimat syahadat.
Sejak menjadi Muslim, Khalid bin Walid selalu membersamai perjuangan syiar Islam, termasuk di medan jihad. Perang pertama yang diikutinya sebagai umat Rasulullah SAW adalah Pertempuran Mut'ah.
Sejarah mencatat, tidak ada satu pun perang yang di dalamnya Khalid bin Walid menjadi komandan Muslim, melainkan Muslimin meraih kemenangan. Salah satu yang fenomenal adalah Perang Yarmuk, yang di dalamnya pasukan Islam berkompetisi melawan tentara Romawi.
Walau secara jumlah tidak sebanding, pasukan Muslimin sukses merebut kemenangan. Hasil dari Perang Yarmuk memuluskan jalan bagi ekspansi daulah Islam hingga ke seluruh Syam.
Bagaimanapun, Khalid bin Walid tidak menemui akhir kehidupan yang sebagaimana dicita-citakannya. Sebagai seorang panglima jihad Muslimin, dia begitu sedih menyadari bahwa ajal datang tatkala dirinya berebahan di atas kasur, bukan saat berjuang di medan perang.
Padahal, dia telah menghabiskan nyaris seluruh masa hidup di atas punggung kuda, di bawah kilatan pedang, dan berhadap-hadapan dengan musuh Allah dalam jihad fii sabilillah.
"Sungguh, saya telah mengikuti banyak perang. Tidak ada satu jengkal pun pada tubuhku melainkan padanya terdapat jejak sabetan pedang dan lemparan anak panah. Akan tetapi, sekarang saya meninggal di atas dipan ibaratkan seekor unta tua," katanya di detik-detik terakhir hayatnya.
Dalam hidupnya, Khalid bin Walid berupaya sungguh-sungguh meneladani Rasulullah SAW, suri teladan sederhana dan mencintai orang-orang miskin.
Saat nyawa lepas dari jasadnya, Khalid hanya meninggalkan kekayaan berupa seekor kuda, sebilah pedang, dan seorang budak.
Khalifah Umar bin Khattab berbicara mengenangnya, "Semoga Allah merahmati Abu Sulaiman (Khalid bin Walid). Keadaannya persis seperti apa yang kami sangkakan."
Sang Saifullah wafat pada tahun ke-21 Hijriyah di Syam.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·