Apa Dan Siapa Zionis?

Jan 26, 2026 03:50 PM - 3 bulan yang lalu 91799

Kincai Media , JAKARTA -- Israel merupakan Zionis dalam bentuk negara. Secara kebahasaan, zionis berfaedah mereka yang mendambakan “kembali ke Bukit Zion”, ialah sebuah area geografis di Baitul Makdis (disebut pula Yerusalem), Palestina.

Kongres pertama Gerakan Zionis Internasional diselenggarakan di Basel, Swiss, pada 1897. Tokoh utamanya adalah seorang aktivis Yahudi dari Austro-Hongaria, Theodor Herzl. Dia dan para pendukungnya mendambakan negara bagi seluruh orang Yahudi, yang saat itu hidup terpencar-pencar di beragam bagian dunia.

Bagaimanapun, sebelum tahun 1897 zionisme sesungguhnya sudah ada, tetapi wujudnya tetap sebuah “kepercayaan tradisional.” Dalam arti, orang-orang Yahudi mempercayai bahwa Tuhan telah berjanji kepada Nabi Musa untuk menganugerahkan Yerusalem kepada bangsa Yahudi. Karena itu, mereka meyakini, kota suci tersebut suatu saat bakal menjadi miliknya untuk selama-lamanya.

Sejak kongres di Basel pada 1897 itu, mengemukalah apa yang disebut Zionisme politik. Ini tidak sama seperti yang diusung Yahudi tradisional alias “Yahudi asli.” Zionisme tradisional meyakini, kembalinya mereka ke Bukit Zion hanya terjadi ketika sang Raja Yahudi namalain ahli selamat (messiah) telah datang di antara mereka. Messiah ini bakal memimpin mereka untuk mengambil alih Yerusalem.

Sementara, zionisme politik yang diusung Herzl dan para pendukungnya memandang, pengambilalihan Bukit Zion (baca: Palestina) tidak perlu menunggu kehadiran sang ahli selamat. Bagi mereka, kaum Yahudi kudu aktif sendiri dan merebut “tanah yang dijanjikan” itu dengan langkah apa pun. Perpecahan antara zionisme tradisional dan zionisme politik sebenarnya sudah tampak apalagi sebelum kongres di Swiss tersebut.

Faktanya, nyaris seluruh pendiri Gerakan Zionis Internasional adalah keturunan Yahudi imigran dari Eropa, bukan Timur Tengah. Nyaris mereka semua pun adalah Yahudi Ashkenazi.

Ada beragam asumsi tentang asal mula Ashkenazi. Ernest Renan (1823-1892), filsuf Prancis yang juga master sejarah Semit mengemukakan Teori Khazaria. Mengutip karyanya, Judaism as a Race and as a Religion (1883), dia berpendapat, Yahudi Ashkenazi adalah keturunan bangsa Khazar yang pernah berhasil di Asia Tengah.

Mereka tidak berasal dari Kanaan (Palestina). Justru, asalnya adalah bangsa Turki—merujuk pada Asia Tengah, bukan negara Turki modern—yang kemudian memeluk kepercayaan Yahudi. Sesudah bangsa Mongol menyerbu Imperium Khazaria di utara Laut Kaspia, lanjut Renan, mereka pun beranjak ke Eropa. Bahasa yang dipakainya bukanlah Ibrani, seperti kebanyakan kaum Yahudi penunggu Kanaan, melainkan Yiddish.

Baru-baru ini, muncul riset tes genetik mengenai Yahudi Ashkenazi. Itu dilakukan seorang mahir genetika dari Universitas John Hopkins School of Public Health, Eran Elhaik. Pada 2013, ilmuwan Israel ini mempublikasikan hasil penelitiannya dalam tulisan “The Missing Link of Jewish European Ancestry: Contrasting the Rhineland and the Khazarian Hypothese.”

Eran Elhaik menemukan, genom orang Yahudi Ashkenazi didominasi komponen Khazaria hingga 30-38 persen. Sementara, komponen Timur Tengah-nya sangat kecil. Artinya, mereka sangat susah untuk dianggap berasal dari Tanah Kanaan alias Palestina. Elhaik juga mengungkapkan, adanya kesamaan genetika antara Yahudi Ashkenazi dan populasi Kaukasus jika ditinjau dari garis ayah, berasas riset atas Y-Chromosom DNA, maupun garis ibu, jika dilihat dari Mitochondrial DNA.

Maka, gimana mungkin Yahudi Ashkenazi mengeklaim Yerusalem sebagai tanah airnya, padahal nenek moyang mereka berasal dari Asia Tengah alias Kaukasus?

Selengkapnya