Anak Jenius Dan Nafsu Orang Dewasa

Jan 10, 2026 11:13 AM - 3 bulan yang lalu 108850

Film “Gifted” (2017) dibuka tanpa gegap gempita. Tak ada musik heroik, tak ada keajaiban ala dongeng. Seorang anak wanita kelas satu sekolah dasar, Mary Adler, menyelesaikan soal matematika yang membikin pembimbing dan guru besar universitas tercengang. Ia jenius. Tapi movie ini sejak awal menolak menjadikan kejeniusannya sebagai tontonan. Ia menjadikannya masalah.

Di sinilah “Gifted” berbeda dari banyak movie bertema anak cerdas. Ia tidak bertanya seberapa pandai seorang anak, melainkan siapa yang berkuasa atas kecerdasannya.

Mary bukan hanya anak dengan talenta langka. Ia adalah pewaris luka. Ibunya, matematikawan jenius, meninggal bunuh diri setelah hidupnya direduksi menjadi mesin pembuktian teorema. Sang nenek—representasi bumi akademik—ingin menyelamatkan “potensi” Mary agar tak terbuang. Sang paman, Frank, justru mau menyelamatkan Mary sebagai manusia.

Konflik ini membikin “Gifted” menjadi movie politik dalam skala keluarga. Kecerdasan diperlakukan sebagai sumber daya. Dan seperti sumber daya lain, dia diperebutkan.

Matilda

Matilda (1996)

Bandingkan dengan “Matilda” (1996). Di movie ini, kepintaran adalah perangkat perlawanan. Matilda hidup di bumi dewasa yang korup dan bodoh: orang tua yang serakah, kepala sekolah tiranik, dan sistem pendidikan yang kejam. Tidak ada perdebatan etis tentang kewenangan asuh alias kurikulum akselerasi. Dunia dewasa sudah gagal. Maka anak berkuasa melawan.

Matilda adalah khayalan pembebasan. Kecerdasan—bahkan kekuatan supranatural—diletakkan di tangan anak sebagai senjata moral. Ia menertawakan otoritas. Ia tidak meminta izin pada psikolog alias profesor. Film ini percaya bahwa ketika sistem rusak, anak jenius sah menjadi pembangkang.

Sementara “Little Man Tate” (1991) mengambil jalur yang lebih sunyi. Fred Tate adalah anak jenius yang tersisih. Ia terlalu pandai untuk taman bermain, tapi terlalu rentan untuk bumi akademik yang dingin. Film ini tidak berteriak tentang kewenangan alias perlawanan. Ia berbincang tentang kesepian.

Fred unggul di fisika, tapi kandas di pertemanan. Ibunya mau dia “normal”, para akademisi mau dia “berprestasi”. Tak satu pun betul-betul tahu apa yang Fred inginkan. Di sini, kepintaran bukan berkah alias senjata, melainkan jarak—yang memisahkan anak dari bumi sebayanya.

Little Man Tate

Little Man Tate (1991)

Ketiga movie ini, dengan pendekatan berbeda, mengusulkan satu pertanyaan yang sama: apakah kepintaran anak milik anak itu sendiri, alias milik bumi yang mau mengaturnya?

“Gifted” memberikan jawaban paling tidak romantis, sekaligus paling relevan. Ia menunjukkan bahwa di kembali semboyan “pengembangan potensi”, sering tersembunyi ambisi orang dewasa yang belum selesai. Sang nenek Mary tidak jahat. Ia hanya percaya pada sistem yang membentuknya—bahwa kejeniusaan kudu dikorbankan sejak awal demi pencapaian besar. Frank pun tidak ideal. Ia membawa trauma, rasa bersalah, dan ketakutan mengulangi sejarah.

Mary terjepit di antara dua visi hidup. Yang satu menjanjikan keabadian intelektual, yang lain menawarkan kehidupan biasa. Film ini dengan sengaja tidak menjadikan pilihan “prestasi” sebagai puncak moral cerita. Ia justru bertanya: apa makna prestasi jika dibayar dengan masa kanak-kanak?

Pertanyaan ini terasa dekat dengan bumi pendidikan hari ini. Dari kelas akselerasi, olimpiade, hingga pengarahan belajar sejak taman kanak-kanak, anak sering diperlakukan sebagai proyek. Ranking menjadi identitas. Nilai menjadi nilai diri. Kecerdasan dijinakkan agar sesuai target.

Dalam konteks itu, “Matilda” terdengar seperti dongeng yang kita rindukan—anak melawan sistem yang bebal. “Little Man Tate” terasa seperti potret jujur tentang akibat sosial kejeniusaan. Tapi “Gifted” adalah cermin yang paling menyakitkan. Ia memaksa kita mengakui bahwa niat baik orang dewasa bisa sama berbahayanya dengan ketidakpedulian.

Film ini tidak menolak pendidikan tinggi, tidak memusuhi sains, dan tidak memuliakan kebodohan. Ia hanya mengingatkan satu perihal sederhana yang sering dilupakan: anak jenius tetap anak. Ia butuh bermain, gagal, marah, dan memilih—bukan sekadar unggul.

Pada akhirnya, pertarungan dalam Gifted bukan soal matematika tingkat lanjut. Ia adalah pertarungan tentang siapa yang berdaulat atas masa depan anak. Dan jawabannya, jika movie ini boleh dipercaya, semestinya tidak sepenuhnya berada di tangan orang dewasa yang terlalu percaya tahu segalanya.

Karena sejarah—di bumi nyata maupun di layar—terlalu sering menunjukkan satu hal: kejeniusaan yang dipaksa tumbuh terlalu cepat, sering layu sebelum sempat hidup.

Selengkapnya