Aktivitas Dunia Bisa Jadi Ibadah? Tulus Atau Modus?

Jan 16, 2026 11:00 AM - 3 bulan yang lalu 104299

Sudah kita ketahui berbareng bahwa ada dua macam ibadah. Ada ibadah mahdhah, ialah ibadah murni seperti salat, berpuasa, alias menunaikan ibadah haji. Ada pula ibadah ghairu mahdhah, ialah kegiatan duniawi yang bisa berbuah pahala ketika kita meniatkannya sebagai corak ibadah kepada Allah Ta’ala. Misalnya, tenaga kerja yang meniatkan kegiatan kerjanya untuk menafkahi keluarga, alias berolahraga sebagai ikhtiar sehat untuk menunjang ibadah lainnya.

Sekali lagi, kegiatan bumi dapat menjadi corak ibadah kepada Allah. Hanya saja, perlu kita perhatikan dua catatan berikut sebelum kita merasa, apalagi mengklaim, bahwa kegiatan duniawi kita adalah corak ibadah kepada Allah Ta’ala.

Awasi hati sesering mungkin

Boleh jadi saat kita pergi ke instansi di pagi hari, niat kita tetap tulus untuk menafkahi family sebagai corak ibadah kepada Allah Ta’ala. Sayangnya, memasuki waktu sore, secara tidak sadar niat kita sudah berubah: mau mengalokasikan penghasilan bulan ini sekadar untuk biaya konsumsi dan membeli gadget flagship keluaran terbaru. Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sungguh setiap kebaikan itu tergantung pada niatnya. Dan sungguh setiap orang itu hanya bakal mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya lantaran Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) lantaran Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan bumi alias seorang wanita yang mau dia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang dia niatkan tersebut.” [1]

Amal itu tergantung pada niatnya, dan niat itu letaknya di hati. Ketika niat kita sudah bergeser sekadar untuk menikmati dunia, maka kebaikan kita sudah tidak lagi ternilai sebagai ibadah. Awasi terus hati kita sesering mungkin, baik sebelum, saat, maupun setelah beramal, lantaran hati itu rawan terbolak-balik. Karenanya, apalagi Rasulullah ﷺ yang merupakan manusia terbaik pun senantiasa berdoa,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْيَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” [2]

Baca juga: Mengenal Fungsi Niat

Jujur kepada diri sendiri

Boleh jadi kita menyatakan bahwa kegiatan duniawi kita adalah corak ibadah kepada Allah Ta’ala, namun hakikatnya tidak demikian. Sebenarnya kita memang sedang gila bumi saja, tetapi kita tidak merasa nyaman dengan realitas tersebut. Kita menyangkal realita itu, lantaran hanya mau mendengar perihal yang kita sukai. Kita hanya mau melakukan perihal yang diinginkan, namun enggan menerima akibat dari jalan yang telah dipilih.

Alhasil, agar bisa nyaman dengan diri sendiri, kita memilih untuk membohongi hati nurani dengan mencari pembenaran, dengan mengatakan bahwa kegiatan duniawi kita adalah corak ibadah kepada Allah Ta’ala. Sejatinya, kita sepenuhnya sadar bahwa klaim tersebut hanyalah justifikasi belaka.

Terlebih jika yang menyadarkan kecanduan kita kepada bumi itu adalah orang lain. Saat asyik-asyiknya dimabuk dunia, datang orang lain berbicara kepada kita, “Aku lihat Anda selama ini sibuk kerja, istirahat, main. Aku nggak pernah lihat Anda salat, doa, alias baca Al-Quran.”

Mendengar perihal itu, hati mini kita sebenarnya terketuk mau berkata, “Kamu benar, terima kasih nasihatnya. Semoga Allah memberi hidayah kepadaku.” Tetapi, lantaran lebih memilih menipu diri sendiri, kita justru memasang sikap melindungi dengan menyerang kembali berkali-kali sebagai corak pertahanan terbaik. Apabila dalam nasihat itu terdapat kekeliruan dalam penyampaiannya, kita langsung memusatkan perhatian untuk menyerang kesalahan itu, alih-alih konsentrasi merenungi isi nasihat dan mengucap syukur atas niat baiknya. Bahkan, terkadang kita rela menyisihkan waktu untuk mengingat-ingat kekurangan yang sama sekali tidak berasosiasi dengan pesan yang disampaikan, semata untuk membantah nasihatnya.

Kita mengatakan, “Kamu tau apa tentangku, memangnya Anda mengawasiku 24 jam setiap harinya? Lagipula, bukankah kegiatan bumi juga bisa menjadi ibadah? Bukankah selain ada hablum minallah, juga ada hablum minannas? Bukankah tubuh ini juga punya kewenangan yang kudu dipenuhi dengan rehat dan rehat sejenak?” Padahal, sekali lagi, kondisi kita tidak sebaik itu. Kita hanya sedang tertipu oleh gemerlap dunia, tidak lain dan tidak bukan.

Demikianlah kondisi kita yang persis seperti firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْوَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

“Akan tetapi, manusia adalah (makhluk) yang paling banyak membantah.” (QS. Al-Kahfi: 54)

Kemudian, mari kita uraikan. Apabila seorang yang memenuhi seluruh tanggungjawab kepercayaan saja tetap mungkin bergeser niatnya ketika mau menjadikan kegiatan dunianya sebagai ibadah, lantas gimana lagi dengan orang yang tidak berkomitmen memenuhi tanggungjawab syariat? Kerap kita jumpai orang yang bolak-balik mengatakan bahwa kegiatan bumi bisa menjadi ibadah, namun dia tidak mendirikan salat, enggan bersedekah dan menunaikan zakat, tidak mau menutup aurat, tidak pernah mengaji, dan tetap banyak lagi.

Apabila yang jelas-jelas merupakan ibadah murni saja enggan ditunaikan, gimana lagi dengan menjadikan kegiatan duniawi sebagai ibadah? Memang betul bahwa yang demikian tetap mungkin terjadi. Hanya saja, agar tidak terkesan memvonis, silakan pembaca sekalian bertanya secara objektif pada diri sendiri: seberapa besar kemungkinannya?

Mungkin kita perlu menyendiri sejenak, untuk merenungi diri sendiri yang begitu cinta bumi sehingga sampai hati untuk menjadikan aliran kepercayaan sebagai pembenaran terselubung bakal kecanduan terhadap dunia. Selamat bermuhasabah, semoga Allah memberi hidayah kejujuran kepada kita semua.

Baca juga: Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 1)

***

Penulis: Reza Mahendra

Artikel Kincai Media

Catatan Kaki:

[1] HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907.

[2] HR. Tirmidzi no. 2140.

Selengkapnya