What It Takes: Asia Tenggara – What It Takes: Asia Tenggara adalah kitab yang mengulas sungguh besarnya potensi area ini yang tetap belum sepenuhnya dimanfaatkan. Buku ini menunjukkan gimana Asia Tenggara dapat menjadi kekuatan dunia dengan menghadapi tantangan krusial dalam bagian pendidikan, khususnya STEM, infrastruktur, tata kelola, dan inovasi.
Gita Wirjawan, selaku penulisnya, menekankan pentingnya investasi strategis pada pengembangan sumber daya manusia serta perlunya area ini membangun kembali narasinya di panggung dunia.
Buku What It Takes: Asia Tenggara mempunyai 272 laman dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 22 Desember 2025. Karya ini diharapkan bisa memberi kontribusi positif bagi perkembangan Asia Tenggara. Siap menemukan beragam wawasan berharganya? Mari belajar bersama, Grameds!
Profil Gita Wirjawan – Penulis Buku What It Takes: Asia Tenggara
Gita Wirjawan merupakan Visiting Scholar di Precourt Institute for Energy, Doerr School of Sustainability, Stanford University. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan Republik Indonesia periode 2011 hingga 2014. Selain itu, dia adalah mitra pendiri Ikhlas Capital serta memimpin Ancora Group. Gita juga dikenal sebagai pemandu program Endgame, sebuah siaran pendapat ternama di Indonesia yang telah menghadirkan lebih dari 200 bagian dan ditonton lebih dari 100 juta penonton dari beragam negara.
Sinopsis Buku What It Takes: Asia Tenggara


What It Takes: Asia Tenggara-Dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global membahas proses modernisasi dan posisi Asia Tenggara yang menjadi rumah bagi sekitar 700 juta masyarakat dalam lanskap bumi internasional. Gita Wirjawan mengangkat beragam tantangan yang tetap dihadapi area ini, mulai dari rendahnya PDB per kapita, ketimpangan dalam pendidikan, hingga persoalan keberlanjutan, sembari menekankan kelebihan strategis Asia Tenggara di tengah dinamika bumi multipolar.
Dengan mengombinasikan sikap realistis serta angan besar, kitab ini lahir dari serangkaian perbincangan berbareng para akademisi, praktisi, dan tokoh global. Melalui kitab ini, para pemimpin masa depan diajak untuk kembali memikirkan arah perkembangan Asia Tenggara sekaligus membuka kesempatan besar yang dimilikinya di panggung dunia.
Kelebihan dan Kekurangan Buku What It Takes: Asia Tenggara
Pros & Cons
Pros
- Memuat banyak pembelajaran.
- Argumen mudah dipahami.
- Dibagi menjadi beberapa tema.
- Bab saling terkait.
- Kredibilitas informasi.
- Direkomendasikan oleh para Ahli.
Cons
- Inkonsistensi penggunaan data.
Kelebihan Buku What It Takes: Asia Tenggara
Buku What It Takes: Asia Tenggara karya Gita Wirjawan mempunyai banyak kelebihan yang membikin para pembaca memilih kitab ini sebagai sumber info dan pembelajaran berharga.
- Memuat banyak pembelajaran
Buku ini menyajikan beragam topik krusial mengenai Asia Tenggara sebagai suatu kawasan, komplit dengan gambaran perjalanan dari masa lalu, kondisi saat ini, hingga kesempatan masa depan. Penyajiannya membantu pembaca yang baru mulai mempelajari area ini, lantaran membahas sejarah, dinamika sosial, serta aspek ekonomi Asia Tenggara dengan langkah yang ringan dan mudah diikuti.
- Argumen mudah dipahami
Setiap pendapat dalam kitab ini diperkuat dengan informasi nyata serta disampaikan secara objektif. Penulis juga mengakui adanya pengecualian pada beberapa kondisi, misalnya tidak selalu menyertakan Singapura lantaran mempunyai level perkembangan yang berbeda, alias mengecualikan Vietnam ketika membahas negara dengan skor PISA di bawah rata-rata. Pendekatan yang penuh nuansa ini membikin argumen terasa lebih logis dan mudah dipahami.
- Dibagi menjadi beberapa tema
Buku ini tersusun dalam beberapa tema utama, seperti pengelolaan keuangan, pendidikan, rumor lingkungan berkelanjutan, perkembangan internet, kepintaran buatan, hingga pembentukan hubungan internasional. Pembagian tema ini membantu pembaca mengikuti alur pendapat dengan lebih sistematis.
- Bab saling terkait
Meskipun terbagi dalam beberapa topik, setiap bab mempunyai keterhubungan yang erat, terutama dengan tema pendidikan. Penulis menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama yang memengaruhi kemajuan di beragam sektor lainnya. Ini menciptakan kesinambungan pendapat yang kuat sepanjang buku.
- Kredibilitas informasi
Latar belakang Gita Wirjawan sebagai mantan menteri, pelaku bisnis, serta akademisi memberikan kekuatan besar bagi kitab ini. Analisis yang tajam berpadu dengan seruan nyata untuk kebangkitan area menjadikan kitab ini mempunyai nilai otoritas tinggi dan semakin meyakinkan untuk dijadikan rujukan.
- Direkomendasikan oleh para Ahli
Iwan Jaya Aziz dari Cornell University menyebut kitab ini sebagai sebuah pandangan baru yang menawarkan peta jalan meyakinkan bagi masa depan ASEAN agar dapat memimpin dan tidak hanya mengikuti dalam tatanan bumi multipolar. Sementara itu, Arun Majumdar dari Stanford Doerr School of Sustainability menilai kitab ini bisa mendorong pembaca untuk mengambil tindakan nyata.
Selain itu, Meghan O’Sullivan dari The John F. Kennedy School of Government juga menilai kitab ini sebagai referensi krusial bagi siapa saja yang peduli pada peran dunia area bergerak ini di abad ke-21.
Kekurangan Buku What It Takes: Asia Tenggara
Meskipun Buku What It Takes: Asia Tenggara karya Gita Wirjawan ini mempunyai beberapa kelebihan, kitab ini tetap mempunyai masukan yang bisa menjadikan referensi ini lebih baik.
- Inkonsistensi penggunaan data
Beberapa bagian kitab terasa kurang konsisten dalam menentukan negara yang dijadikan bahan perbandingan. Ada saat Singapura dan Brunei disertakan, namun pada bagian lain tidak. Pemilihan informasi yang terkesan mengikuti kebutuhan narasi memang memperkuat argumen, tetapi dapat sedikit mengganggu pembaca yang mau memandang gambaran persoalan secara lebih jujur dan menyeluruh.
Visi & Misi ASEAN Beserta Realisasinya
Hingga memasuki awal tahun 2026, ASEAN berada pada fase transisi krusial dari penyelesaian Visi 2025 menuju penyelenggaraan Visi 2045. ASEAN mempunyai moto “Satu Visi, Satu Identitas, Satu Komunitas”.
Visi ASEAN 2025: Forging Ahead Together, berfokus pada pembentukan organisasi yang berorientasi pada masyarakat, aman, serta mempunyai integrasi ekonomi yang kuat.
Visi ASEAN 2045: Resilient, Innovative, Dynamic, and People-Centred, dengan sasaran menjadikan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi bumi dan berada di posisi ekonomi terbesar keempat bumi pada tahun 2045.
Misi: Mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, serta penguatan budaya kawasan, sekaligus menjaga perdamaian dan stabilitas regional.
Hingga awal 2026, realisasi nyata dari visi tersebut mencakup:
- Pilar Ekonomi (AEC – ASEAN Economic Community)
- Pencapaian: Integrasi menuju pasar tunggal telah menunjukkan perkembangan besar melalui peluncuran Rencana Strategis AEC 2026–2030 yang mencakup 192 langkah strategis guna memperkuat posisi ASEAN dalam rantai pasok global.
- Ekonomi Digital: Perundingan Digital Economy Framework Agreement (DEFA) sedang berjalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital area dengan sasaran mencapai nilai US$2 triliun pada tahun 2030.
- Keuangan: Implementasi sistem pembayaran lintas negara berbasis QR serta penggunaan mata duit lokal (Local Currency Transaction) sebagai langkah penguatan kemandirian ekonomi kawasan.
- Pilar Politik-Keamanan (APSC – ASEAN Political-Security Community)
- Pencapaian: Stabilitas area tetap terjaga melalui beragam instrumen norma seperti Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters (MLAT) guna menangani kejahatan lintas negara, perdagangan manusia, dan terorisme.
- Stabilitas: Penyusunan serta pengesahan arsip strategi baru pasca 2025 dilakukan untuk menghadapi dinamika geopolitik di area Indo Pasifik.
- Pilar Sosial-Budaya (ASCC – ASEAN Socio-Cultural Community)
- Pencapaian: Pelaksanaan program peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui standar kualifikasi regional guna mendorong mobilitas ahli antar negara ASEAN.
- Kesehatan & Lingkungan: Penguatan kerja sama dalam transisi menuju daya hijau dan penanganan perubahan suasana sebagai bagian dari pencapaian Visi 2045.
Memasuki tahun 2026, ASEAN mulai mengimplementasikan Rencana Strategis Lima Tahun Pertama menuju Visi 2045, dengan konsentrasi utama pada transformasi digital, keberlanjutan, serta penguatan kelembagaan agar tetap mempunyai peran krusial di tengah persaingan kekuatan global.
Penutup
Di tengah lautan kitab pemikiran dan kajian kebijakan, What It Takes: Southeast Asia karya Gita Wirjawan datang seperti bunyi yang mengguncang kesadaran. Buku ini tidak sekadar menawarkan analisis, melainkan menghadirkan sebuah manifesto yang terasa begitu dibutuhkan oleh Asia Tenggara.
Dengan pengalaman dan ketajamannya sebagai mantan menteri dan pelaku bumi investasi, Gita tidak hanya memetakan potensi area ini, tetapi juga menyuarakan rayuan kuat untuk kebangkitannya.
Buku ini tidak dimaksudkan sebagai pedoman teknis yang memberikan solusi siap pakai. Pembaca pun tidak diajak untuk menerima pendapat begitu saja. Sebaliknya, kitab ini menantang kita untuk berpikir, berdialog, dan ikut memaknai peran masing-masing dalam mendorong Asia Tenggara bergerak dari pinggiran menuju pusat perhatian dunia.
What It Takes: Asia Tenggara menjadi referensi yang wajib dimiliki untuk siapa saja yang peduli pada masa depan area ini. Mulai dari kreator kebijakan, akademisi, diplomat, pelaku bisnis, hingga pembaca umum yang mau memahami gimana Asia Tenggara dapat menaklukkan tantangan dan mengubah potensinya menjadi pengaruh nyata di kancah global. Membacanya terasa seperti membuka pintu menuju kemungkinan masa depan yang lebih besar, dan itu membuatnya semakin menarik untuk diselami.
Buku ini dan beragam kitab lainnya bisa Anda dapatkan di Gramedia.com ya! Sebagai kawan untuk menemanimu #TumbuhBersama, kami selalu siap menyediakan info terbaik dan terlengkap untuk kamu. Selamat membaca!
Rekomendasi Buku
Revenge of the Tipping Point : Narasi Besar, Penular Massal, dan Kebangkitan Rekayasa Sosial


Karya terbaru Malcolm Gladwell, Revenge of the Tipping Point, membahas topik yang berangkaian dengan bukunya yang terdahulu, The Tipping Point. Inilah untuk pertama kalinya dalam 25 tahun Gladwell kembali membahas subjek epidemi sosial dan tipping point (saat ajaib ketika suatu ide, perilaku, pesan, dan produk menyebar seperti pandemi penyakit menular), tetapi kali ini dengan tujuan menjelaskan sisi gelap dari kejadian menular.
“Revenge” di sini adalah ironi. Ironi dari tipping point terdahulu. Di kitab terdahulu, tipping point senantiasa berkarakter konstruktif alias menuju ke arah positif. Ternyata, setelah dia pelajari lagi, tipping point juga bisa destruktif dan bisa direkayasa.
Madilog


Madilog ditulis di Rajawali, dekat pabrik sepatu di sekitaran Kalibata, Jakarta. Proses penulisan itu menyantap waktu sekitar 8 bulan antara 15 Juli 1942 dan 30 Maret 1943. Tan Malaka menulis kitab ini pada saat pemerintah Jepang mengalahkan semua musuhnya dengan pedang, seringkali kehilangan kesabaran apalagi terhadap para pekerja Indonesia. Premis dasar penulisan Madilog adalah kepercayaan Tan Malaka bakal kekuatan proletariat Indonesia untuk menaklukkan dan membentuk Indonesia untuk menaklukkan dan membentuk Indonesia merdeka.
Namun, kekuatan ini tidak maksimal lantaran pikiran mereka tetap terbelenggu oleh beragam takhayul. Mereka adalah pandangan bumi dan filosofi yang berkarisma dan tetap diselimuti pengetahuan tentang alambaka dan beragam takhayul. Pola pikir seperti inilah yang berupaya dikoreksi dan dimurnikan oleh Tan Malaka dengan madilognya.
Seikatsu Kaizen: Reformasi Pola Hidup Jepang


Awal Pendisiplinan Jepang ialah pada saat Jepang merasa tetap sangat terbelakang dalam perihal industri dan kualitas SDM. Sehingga mulai berinteraksi dengan negara-negara Barat. Oleh lantaran itu, Jepang melakukan Misi Iwakura ialah mengunjungi pabrik, sekolah, pelabuhan, dan instansi pemerintahan, serta berjumpa dengan para pemimpin dari negara Barat seperti Amerika dan 11 negara di Eropa.
Jepang mencontoh negara-negara Barat dan menerapkan sistem wajib belajar demi meningkatkan kualitas SDM. Kualitas SDM yang baik dapat mendukung kemajuan industri dan pembangunan militer bakal berhasil.
Penulis: Gabriel
English (US) ·
Indonesian (ID) ·