Menjadi Khalifah Di Bumi: Tafsir Lingkungan Ala Syekh Ali Jum‘ah

Jan 17, 2026 08:39 PM - 3 bulan yang lalu 105129
Khalifah di BumiMenjadi Khalifah di Bumi: Tafsir Lingkungan ala Syekh Ali Jum‘ah

Kincai Media – Islam datang sebagai agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk relasi manusia dengan alam. Hubungan ini bukanlah hubungan sampingan, melainkan bagian integral dari misi pembuatan manusia sebagai khalifah fil ardh.

Ketika Allah menetapkan manusia sebagai khalifah di bumi, pada saat yang sama Allah juga menitipkan amanah untuk menjaga keberlangsungan dan keseimbangan ciptaan-Nya (mizan).

Kehidupan bakal terganggu andaikan salah satu unsur, manusia alias alam, mengalami kerusakan. Keduanya saling terhubung dan saling memengaruhi. Karena itu, menjaga kelestarian lingkungan sejatinya adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia.

Sayangnya, dalam praktiknya, manusia justru kerap menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan, demi memenuhi dorongan nafsu dan kepentingan sesaat, tanpa mempertimbangkan keberlanjutan alam.

Syaikh Ali Jum‘ah dalam karyanya Al-Bī’ah wa Ḥifẓuhā min Manẓūr Islāmī menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan lingkungan setidaknya mempunyai tiga tingkatan.

Pertama, hubungan pemanfaatan (al-intifā‘), ialah tingkatan paling dasar. Pada tahap ini, alam dipandang sebagai sarana pemenuhan kebutuhan jasmani manusia. Relasi ini berangkaian erat dengan keberadaan bentuk manusia yang berasal dari tanah dan kembali kepadanya.

Allah berfirman:

مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرٰى ۝٥٥

Artinya; Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami bakal mengembalikanmu dan dari sanalah Kami bakal mengeluarkanmu pada waktu yang lain. (QS. Ṭāhā: 55)

Menurut Syaikh Ali Jum‘ah, keterikatan manusia dengan tanah kelahirannya dapat diibaratkan seperti kerinduan seorang anak kepada ibunya. Dari tanah itulah manusia diciptakan, darinya pula dia memperoleh makanan dan minuman, dan kepadanya jasad manusia bakal kembali ketika wafat. Karena itu, bumi bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan ruang kehidupan yang patut dijaga dan dihormati.

وَتَحَفَّظُوا مِنَ الأَرْضِ فَإِنَّهَا أُمُّكُمْ

Artinya;  “Jagalah bumi, lantaran dia adalah ibu kalian.”

Kedua, hubungan tafakur dan pengambilan pelajaran. Pada tingkatan ini, manusia tidak hanya memanfaatkan alam, tetapi juga merenungi tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di dalamnya. Alam menjadi ayat kauniyah yang membujuk manusia untuk berpikir, mengambil hikmah, dan menyadari keteraturan serta keseimbangan ciptaan-Nya.

Di sini, logika dan kesadaran spiritual mulai bekerja, sehingga hubungan manusia dengan lingkungan menjadi lebih bermakna.

Ketiga, hubungan cinta dan ulfah, ialah tingkatan tertinggi. Hubungan ini berangkaian dengan dimensi ruhani manusia, berupa rasa kasih sayang, keterikatan batin, dan kepedulian mendalam terhadap lingkungan tempat dia hidup. Alam tidak lagi dipandang sebagai barang mati, melainkan sebagai sesama makhluk Allah yang turut bertasbih dan mempunyai nilai di sisi-Nya.

Al-Qur’an mengisyaratkan hubungan ini dalam firman Allah:

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاۤءُ وَالْاَرْضُۗ وَمَا كَانُوْا مُنْظَرِيْنَࣖ

“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka (Fir‘aun dan pengikutnya), dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu.” (QS. ad-Dukhān: 29)

Menafsirkan ayat ini, Syaikh Ali Jum‘ah menukil riwayat Ibnu ‘Abbās sebagaimana dicatat oleh al-Ṭabari. Sa‘īd bin Jubair meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbās menjelaskan: setiap manusia mempunyai “pintu” di langit, tempat turunnya rezeki dan naiknya amal. Ketika seorang mukmin wafat, pintu tersebut tertutup, sehingga langit pun menangisinya.

Demikian pula bumi, khususnya tempat dia biasa shalat dan berdzikir, merasa kehilangan dan menangisinya. Sebaliknya, kaum Fir‘aun tidak meninggalkan jejak kebaikan di bumi dan tidak mempunyai kebaikan saleh yang terangkat kepada Allah. Karena itu, langit dan bumi tidak menangisi mereka.

Dari penjelasan ini tampak bahwa hubungan selaras antara manusia dan lingkungan lahir dari kesalehan spiritual dan etika hidup. Alam “bersaksi” atas kebaikan manusia yang menjaganya, dan sebaliknya, menjauh dari mereka yang merusaknya.

Simak penjelasan Syekh Ali Jum’ah yang menukil Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh  at-Thabari;

قالَ سَعِيدُ بنُ جُبَيْرٍ: أَتَى ابنَ عَبَّاسٍ رَجُلٌ فَقَالَ: يا أَبَا العَبَّاسِ أَرَأَيْتَ قَوْلَ اللهِ تَعَالَى: ﴿فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ﴾ فَهَلْ تَبْكِي السَّمَاءُ وَالأَرْضُ عَلَى أَحَدٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ الخَلَائِقِ إِلَّا وَلَهُ بَابٌ فِي السَّمَاءِ مِنْهُ يَنْزِلُ رِزْقُهُ، وَفِيهِ يَصْعَدُ عَمَلُهُ، فَإِذَا مَاتَ المُؤْمِنُ فَأُغْلِقَ بَابُهُ مِنَ السَّمَاءِ الَّذِي كَانَ يَصْعَدُ فِيهِ عَمَلُهُ وَيَنْزِلُ مِنْهُ رِزْقُهُ بَكَى عَلَيْهِ، وَإِذَا فَقَدَهُ مُصَلَّاهُ مِنَ الأَرْضِ الَّتِي كَانَ يُصَلِّي فِيهَا وَيَذْكُرُ اللهَ فِيهَا بَكَتْ عَلَيْهِ، وَإِنَّ قَوْمَ فِرْعَوْنَ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ فِي الأَرْضِ آثَارٌ صَالِحَةٌ، وَلَمْ يَكُنْ يَصْعَدُ إِلَى اللهِ مِنْهُمْ خَيْرٌ، فَلَمْ تَبْكِ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالأَرْضُ.

Sa‘īd bin Jubair berkata: Seseorang datang kepada Ibnu ‘Abbās lampau bertanya, “Wahai Abu al-‘Abbās, gimana pendapatmu tentang firman Allah Ta‘ālā: ‘Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka, dan mereka pun tidak diberi penangguhan’ (QS. ad-Dukhān: 29). Apakah langit dan bumi betul-betul menangisi seseorang?”

Ibnu ‘Abbās menjawab, “Ya. Tidak ada satu pun makhluk selain dia mempunyai sebuah pintu di langit, dari sanalah rezekinya turun dan dari sanalah amalnya naik. Apabila seorang mukmin meninggal dunia, maka pintu di langit yang dulu menjadi jalan naik amalnya dan turunnya rezekinya ditutup, sehingga langit pun menangisinya. Demikian pula, tempat shalatnya di bumi yang biasa dia gunakan untuk shalat dan berdzikir kepada Allah bakal merasa kehilangannya dan menangisinya.

Adapun kaum Fir‘aun, mereka tidak mempunyai jejak kebaikan di bumi, dan tidak ada kebaikan dari mereka yang naik kepada Allah. Oleh lantaran itu, langit dan bumi tidak menangisi mereka.”

Pada akhirnya, kerusakan lingkungan yang kita saksikan hari ini bukan semata persoalan ekonomi alias teknis, melainkan gambaran dari krisis moral dan spiritual manusia.

Rusaknya alam menandakan terganggunya hubungan manusia dengan amanah kekhalifahan yang telah Allah titipkan. Menjaga lingkungan, dengan demikian, bukan hanya tanggung jawab ekologis, tetapi juga bagian dari pengamalan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Selengkapnya