Isra dan Mi’raj Menurut Syekh Ramadhan Al-ButhiKincai Media – Peristiwa Isra dan Mi’raj merupakan salah satu kejadian paling luar biasa dalam sejarah kenabian. Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai waktu terjadinya. Sebagian mengatakan peristiwa ini terjadi pada tahun kesepuluh kenabian, sementara yang lain menyebut waktu yang berbeda.
Dalam Fiqh al-Sīrah al-Nabawiyah, Said Ramadhan Al-Buthi memilih riwayat Ibnu Sa‘d yang menyatakan bahwa Isra dan Mi’raj terjadi delapan belas bulan sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Mayoritas ustadz beranggapan bahwa peristiwa ini dialami Rasulullah dengan jasad dan ruh secara bersamaan, bukan sekadar mimpi alias perjalanan ruhani.
Al-Buthi kemudian menguraikan sejumlah pelajaran (ibrah) dari peristiwa Isra dan Mi’raj:
1. Penjelasan tentang Rasul dan Mukjizat
Al-Buthi menekankan bahwa dalam banyak tulisan tentang Nabi Muhammad, beliau sering digambarkan sebagai manusia biasa, tanpa penekanan pada mukjizatnya. Beberapa penulis apalagi menafikan mukjizat dengan merujuk pada firman Allah:
قُلْ اِنَّمَا الْاٰيٰتُ عِنْدَ اللّٰهِ
“Sesungguhnya tanda-tanda (mu‘jizat) itu hanyalah di sisi Allah” (QS. al-An‘ām: 109).
Menurut Al-Buthi, pendekatan ini bisa menimbulkan kesan bahwa sirah Nabi hanyalah catatan sejarah tanpa mukjizat. Padahal, mukjizat merupakan corak pertolongan Allah untuk meneguhkan risalah para nabi.
Al-Buthi menjelaskan bahwa pandangan seperti ini berakar dari pemikiran sebagian orientalis seperti Gustav Le Bon dan Ignaz Goldziher, yang kemudian memengaruhi sebagian ahli filsafat Muslim modern. Orientalis sering menggambarkan Rasulullah sebagai tokoh heroik alias jenius, tetapi perihal ini justru menggeser posisi Nabi dari pembawa wahyu menjadi sekadar tokoh sejarah besar.
Al-Buthi menegaskan bahwa sifat utama Nabi adalah kenabian, bukan hanya kepahlawanan, kejeniusan, alias kepemimpinan. Mereka yang hanya memandang sisi manusiawi Nabi secara tidak langsung menolak kenabian beliau.
2. Kedudukan Mukjizat Isra dan Mi’raj
Peristiwa Isra dan Mi’raj terjadi pada fase paling berat dakwah Nabi di Makkah. Sebelum peristiwa ini, Nabi mengalami penyiksaan dan tekanan dari kaum Quraisy, termasuk perjalanan ke Thaif, di mana dia ditolak dan disakiti.
Dalam kondisi lemah, Nabi bermohon kepada Allah dengan tulus, apalagi menyatakan:
اِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ غَضَبٌ فَلَا اُبَالِي
“Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka saya tidak peduli.”
Isra dan Mi’raj datang sebagai penghargaan dan penguatan Allah, menenangkan jiwa Nabi, memperkuat hati, dan menyegarkan semangat dakwah. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ujian bukan tanda Allah meninggalkan Nabi, tetapi bagian dari sunnatullah bagi para nabi.
3. Makna Isra ke Baitul Maqdis
Perjalanan Nabi ke Masjid Al-Aqsa dan menembus tujuh langit menunjukkan kemuliaan Baitul Maqdis di sisi Allah. Pilihan Al-Aqsa sebagai titik singgah menegaskan keterkaitan risalah Nabi Isa dan Nabi Muhammad, yang berasal dari jalan yang sama.
Al-Buthi menekankan bahwa kaum Muslimin wajib menjaga Baitul Maqdis dari perusakan, penodaan, alias perampasan. Isra dan Mi’raj juga menjadi sumber inspirasi perjuangan, misalnya bagi tokoh seperti Salahuddin al-Ayyubi dalam membebaskan Baitul Maqdis.
4. Pilihan Rasulullah terhadap Susu
Ketika Jibril menawarkan susu dan khamar, Nabi memilih susu. Pilihan ini berkarakter simbolik, menegaskan bahwa Islam adalah kepercayaan fitrah, yang selaras dengan tabiat dasar manusia. Islam tidak bertentangan dengan fitrah manusia, sehingga mudah diterima dan tersebar luas.
5. Isra dan Mi’raj Dialami Jasad dan Ruh
Mayoritas ustadz sepakat bahwa Nabi mengalami Isra dan Mi’raj dengan jasad dan ruh. Al-Buthi menunjukkan bahwa reaksi keras kaum Quraisy terhadap peristiwa ini menjadi bukti kebenaran pengalaman Nabi. Jika hanya mimpi, mereka tidak bakal menuntut Nabi menggambarkan Baitul Maqdis secara rinci.
Mukjizat berkarakter di luar norma kebiasaan alam dan tidak selalu dapat dijelaskan dengan logika alias standar empiris. Oleh lantaran itu, tidak ada argumen logis untuk menolak Isra dan Mi’raj.
6. Kewajiban Kritis terhadap Sumber Riwayat
Al-Buthi memperingatkan agar membahas Isra dan Mi’raj dengan sumber yang shahih. Kitab seperti Mi‘raj Ibnu ‘Abbas dianggap tidak dapat dipercaya lantaran berisi cerita tiruan yang disandarkan kepada Ibnu ‘Abbas.
Demikian, peristiwa Isra dan Mi’raj adalah mukjizat yang meneguhkan kenabian Rasulullah SAW dan menunjukkan keterlibatan langsung Allah dalam menguatkan risalah-Nya. Peristiwa ini menolak pandangan yang menempatkan Nabi sebagai sekadar tokoh sejarah, sekaligus menjadi fondasi akidah, sumber inspirasi perjuangan, dan peneguh relevansi Islam sepanjang zaman.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·