Bolehkah Berdoa dengan Bahasa Indonesia saat Shalat?Tanya Ustadz
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya baru masuk Islam dan tetap belum lancar membaca doa-doa dalam shalat dengan bahasa Arab. Kadang saya membaca angan qunut, angan setelah tasyahud, alias zikir-zikir shalat dengan bahasa Indonesia agar lebih paham. Apakah bolehkah bermohon dengan bahasa Indonesia saat shalat?? Bagaimana hukumnya jika dilakukan di dalam shalat? Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jawaban
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih sudah bertanya kepada redaksi Tanya Ustadz Bincang Syariah. Dalam fikih, bacaan-bacaan shalat memang pada asalnya menggunakan bahasa Arab.
Karena itu, seorang muslim yang bisa membaca lafaz-lafaz shalat dalam bahasa Arab tidak dibenarkan menggantinya dengan bahasa lain, terutama pada referensi yang termasuk rukun alias referensi yang ditetapkan secara syar’i.
Namun, para ustadz juga memberi rincian. Tidak semua referensi dalam shalat mempunyai norma yang sama. Ada referensi yang wajib, ada yang sunnah, ada yang ma’tsur, dan ada yang ghairu ma’tsur. Dalam kondisi tertentu, khususnya bagi orang yang belum bisa membaca bahasa Arab, sebagian referensi dapat diterjemahkan sebagai corak uzur.
Hal ini dijelaskan dalam Mughnil Muhtaj sebagai berikut:
ومن عجز عنهما – أي التشهد والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم وهو ناطق، (ترجم) عنهما وجوبا, لا إعجاز فيهما. أما القادر لايجوزله ترجمتهما، وتبطل به صلاته (ويترجم للدعاء) المندوب (والذكر المندوب) ندبا كالقنوت وتكبيرات الإنتقالات وتسبيحات الركوع والسجود (العاجز) لعذره (لا القادر) لعدم عذره (فى الأصح) فيهما. أما غير المأثور بأن إخترع دعاء أوذكرا بالعجمية في الصلاة فلا يجوز.
Artinya, orang yang tidak bisa membaca tasyahud dan shalawat Nabi sementara dia bisa berbicara, maka dia wajib menerjemahkannya. Tetapi orang yang bisa tidak boleh menerjemahkannya, dan jika dia melakukannya, shalatnya batal. Adapun doa-doa sunnah dan zikir sunnah seperti qunut, takbir perpindahan, tasbih ruku’ dan sujud, maka orang yang tidak bisa boleh menerjemahkannya lantaran uzur.
Sedangkan orang yang bisa tidak boleh menggantinya dengan bahasa selain Arab. Adapun angan alias zikir yang tidak ma’tsur, ialah dibuat-buat sendiri dengan bahasa non-Arab di dalam shalat, maka tidak diperbolehkan.
Keterangan yang sejalan juga disebutkan dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah:
الدعاء بغير العربية في الصلاة: المنقول عن الحنفية في الدعاء بغير العربية الكراهة، وقد فصل الشافعية الكلام فقالوا: الدعاء في الصلاة إما أن يكون مأثوراً أو غير مأثور. أما الدعاء المأثور ففيه ثلاثة أوجه: أصحها، ويوافقه ما ذهب إليه الحنابلة: أنه يجوز بغير العربية للعاجز عنها، ولا يجوز للقادر، فإن فعل بطلت صلاته. والثاني: يجوز لمن يحسن العربية وغيره، والثالث: لا يجوز لواحد منهما لعدم الضرورة إليه. وأما الدعاء غير المأثور في الصلاة، فلا يجوز اختراعه والإتيان به بالعجمية قولا واحداً، وأما سائر الأذكار كالتشهد الأول والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فيه، والقنوت، والتسبيح في الركوع والسجود، وتكبيرات الانتقالات، فعلى القول بجواز الدعاء بالأعجمية تجوز بالأولى، وإلا ففي جوازها للعاجز أوجه: أصحها: الجواز، والثاني: لا، والثالث: يجوز فيما يجبر بسجود السهو، وذكر صاحب الحاوي: أنه إذا لم يحسن العربية أتى بكل الأذكار بالعجمية، وإن كان يحسنها أتى بالعربية، فإن خالف وقالها بالفارسية: فما كان واجبا كالتشهد والسلام لم يجزه، وما كان سنة كالتسبيح والافتتاح أجزأه وقد أساء
Artinya; “Berdoa dengan selain bahasa Arab dalam shalat: yang dinukil dari ajaran Hanafiyah tentang bermohon dengan selain bahasa Arab adalah makruh. Adapun ajaran Syafi’iyah merinci pembahasan sebagai berikut: angan dalam shalat ada dua jenis, ialah angan ma’tsur dan angan ghairu ma’tsur. Adapun angan ma’tsur, ada tiga pendapat.
Pendapat yang paling sahih, dan sejalan dengan ajaran Hanabilah, adalah bahwa angan tersebut boleh dibaca dengan selain bahasa Arab bagi orang yang tidak bisa berkata Arab, tetapi tidak boleh bagi orang yang mampu. Jika orang yang bisa melakukannya, maka shalatnya batal. Pendapat kedua: boleh bagi orang yang fasih berkata Arab maupun yang tidak.
Pendapat ketiga: tidak boleh bagi keduanya, lantaran tidak ada kebutuhan mendesak untuk itu. Adapun angan ghairu ma’tsur dalam shalat, maka tidak boleh mengada-ada dan mengucapkannya dengan bahasa non-Arab, menurut satu pendapat yang tegas.
Adapun zikir-zikir lainnya seperti tasyahud awal, shalawat kepada Nabi SAW di dalamnya, qunut, tasbih ketika ruku’ dan sujud, serta takbir perpindahan gerakan, maka menurut pendapat yang membolehkan angan dengan bahasa non-Arab, perihal itu lebih boleh lagi.
Jika tidak, maka mengenai kebolehannya bagi orang yang tidak bisa ada beberapa pendapat: yang paling sahih adalah boleh, pendapat kedua tidak boleh, dan pendapat ketiga boleh pada bagian-bagian yang ditutup dengan sujud sahwi.
Disebutkan oleh shahibul ash Shawi : andaikan seseorang tidak menguasai bahasa Arab, maka dia membaca seluruh zikir dengan bahasa non-Arab; tetapi jika dia mampu, maka dia membacanya dengan bahasa Arab.
Jika dia menyelisihi ini dan membacanya dengan bahasa Persia, maka bagian yang wajib seperti tasyahud dan salam tidak sah baginya, sedangkan bagian yang sunnah seperti tasbih dan angan iftitah tetap dianggap mencukupi, walaupun dia telah melakukan buruk.”
Dari penjelasan para ustadz di atas, norma bermohon dengan bahasa Indonesia saat shalat dapat dirinci sebagai berikut:
Pertama, jika referensi itu termasuk rukun shalat alias referensi wajib, maka orang yang tidak bisa membaca Arab wajib menggantinya dengan terjemahan agar kewajibannya tetap terpenuhi.
Kedua, jika referensi itu berupa angan alias zikir sunnah yang ma’tsur, maka orang yang tidak bisa boleh membacanya dengan bahasa yang dia pahami. Tetapi orang yang bisa membaca bahasa Arab tidak dibolehkan menggantinya dengan bahasa Indonesia.
Ketiga, jika angan itu ghairu ma’tsur, ialah angan karangan sendiri, maka tidak boleh dibaca dalam shalat dengan bahasa non-Arab, baik bagi yang bisa maupun yang tidak, menurut pendapat yang kuat.
Maka, bagi seorang muallaf alias orang yang betul-betul belum bisa membaca bahasa Arab, ada kelonggaran dalam pemisah tertentu. Tetapi bagi yang sudah mampu, hendaknya tetap menjaga referensi shalat sesuai tuntunan bahasa Arab. Wallahu a’lam bish-shawab.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·